0

Waktunya Menangis

Seperti orang-orang lain, saya punya kesedihan di balik keceriaan yang tampak sehari-hari. Saya juga punya kepedihan di balik segala kata bijak yang berasal dari pikiran yang muncul untuk menetralisir keadaan. Saat tidak berdaya  dimana saya merasa semua  menyerang ke saya pribadi. Segala beban yang ada bertubi-tubi dalam saat yang bersamaan mematikan semangat yang sebelumnya menggebu-gebu.

Seorang ibu yang harus merantau berharap setiap usahanya bisa membawa berkah bagi anak-anak yang sedang mencari jati dirinya, kehidupannya sendiri. Jauh dari mereka dan harus awas dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Pekerjaan yang meraup energi bahkan sampai mengikis kesehatan yang menjadi modal untuk bisa mencari nafkah.

Orang-orang yang kadang memiliki perasaan tidak suka tanpa berusaha memahami bahwa orang tersebut adalah orang yang sedang berjuang untuk hidupnya.

Saya letih dan ingin menyerah.

Seperti tidak ingin bergerak lagi

Waktunya menangis dan berserah, entah apa yang akan terjadi setelah ini.

Saya hanya bisa menangis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *