Sehari hari

Tiada Tempat Nyaman selain Dekat Ibu

Semua bayi yang ada di kandungan pasti merasakan demikian. 9 bulan makan, tidur dalam perut ibu. Begitupun setelah kita-kita dilahirkan menjadi sosok yang mandiri. Proses melepaskan kelekatan kepada ibu memang susah, tetapi mau tak mau, seiring waktu berganti semua juga akan berubah.

Saya beruntung, walaupun saya dianggap merantau karena tidak berada di tanah kelahiran, saya masih bisa dekat dengan ibu. Karena ibu juga ikut kami merantau. Jakarta – Bekasi bukan jarak yang jauh lagi jika kita sudah sering menempuhnya. Apalagi dengan adanya commuter line. Saya dengan mudah bisa menyampaikan ke ibu saya jika saya pengen makan sesuatu.

Sebelum ke Bekasi, saya sudah mengirim pesan, mau makan ini atau itu. Dan semua bisa oleh ibu. Mungkin benar bahan makanan tidak akan sama dengan di Makassar, tetapi tetap saja saya merasakan kerinduan saya terpuaskan.

Baru-baru ini saya ke Bekasi lagi, dan ibu saya lagi getol-getolnya memasak, jadinya saya harus rela menjadi tempat penampungan hasil kreasinya. Dan ibu saya senang karena saya makan lahap, beruntung juga punya seorang anak yang ngekost, bisa kelihatan laparnya jika makan makanan dari rumah sendiri. Dan berikut hasil kerja tangan mama yang harus saya habiskan :

1. Ikan Goreng Sambel Tumis

Masakan ini makin lama disimpan makin enak saja rasanya. Begitu lihat di meja tanpa ba bi bu langsung ambil nasi sepiring, pakai tangan dan voila… begini hasilnya

satu
Sudah pasti pakai tangan makannya ^^

2. Ikan Bakar

Ikan merah ini sayangnya berukuran kecil dari yang biasa saya makan. Tapi dagingnya yang putih bikin semangat makannya. Belum lagi rasa asin di kepala karena diberi garam sedikit saat dibakar. Bakarnya pun tidak kering, dibakar di wajan dengan sedikit minyak (bekas) :p Nikmatnya…

Sambelnya sederhana saja, sambel kecap plus jeruk purut ditambah cabe rawit dan tomat. Sangat tepat kombinasi rasanya

Enak kan?
Enak kan?

3. Kroket

Nah, sebenarnya saya sudah begah kekenyangan tetapi rupanya masih ada kericuhan di dapur. Rupanya persiapan pembuatan kroket berlangsung. Saya cuma membantu menghaluskan kentang yang sudah dikukus.. hanya itu. Sisanya saya tunggu kroket yang matang 😀

Ini bahannya, kalau ditunjukin hasilnya nanti tambah ngiler :D
Ini bahannya, kalau ditunjukin hasilnya nanti tambah ngiler 😀

4. Palluce’la

Saya sudah berjanji dalam hati, tidak akan makan malam hari ini. Sudah terlalu banyak yang masuk di perut, tetapi siapa yang bisa menolak ini

Pallu Ce'la Banyara'
Pallu Ce’la Banyara’

Ikan banyar yang dimasak dengan air garam, kunyit dan serai. Sederhana tapi nikmatnya tiada duanya. Dan akhirnya membuat saya tidur dengan perut yang kenyang minta ampun.

Ke empat jenis makanan itu saya makan dalam waktu setengah hari saja. Dan keesokan harinya saya tetap menjadi pelanggan setia kuliner ibu tercinta.

5. Pepes Ikan

“Li, nia’ bainang kugappa”, begitulah ibu saya sudah lebih 10 tahun di Jakarta tetapi tetap saja menggunakan bahasa Makassar apalagi ke saya. Dengan senang dia memberitahukan bahwa belimbing sayur sekarang siap diolah sebagai bumbu pepes ikan, katanya dia lagi ngidam. Tapi efek ngidamnya bikin saya makan (banyak) lagi.

empat
Pepes ikan Banyar

6. Pallu Kanji

Makan dulu sebelum pulang, pesan ibu saya. Sebenarnya kroket yang kemarin pun masih saya embat dua biji. Alasan tidak mau makan daging merah dan sayur hijau bikin ibu saya komplain. “Sembarangan saja!”, katanya

Terpaksa dengan senang hati saya makan lagi, jam 3 sore sih sebelum balik ke kosan di Jakarta. Pallu Kanji adalah daging yang dimasak dengan tepung kanji dan sayur sawi hijau. Saya cuma berharap semoga nyut-nyut di telapak kaki tidak muncul sampai besok. Karena obat yang saya pesan sudah akan saya terima besok juga. Dan memang benar saya harusnya senang sudah menyantapnya.. puas dan kenyang rasanya. (Gak sempat difoto lagi, sudah keburu habis :D)

Alhamdulillah, tidak ada tempat yang nyaman untuk nafsu makan saya sejak dari janin hingga sekarang. Tetap saja masakan ibu saya adalah masakan terenak dari semua masakan chef di dunia. “Mau bawa pulang ke kosan? “, hihihi.. no thanks mama sudah sangat kenyang.

Semoga setiap makanan yang saya nikmati dan bersyukur menjadi doa yang tak henti hentinya, semoga ibu saya selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan. Amiinn..

Terima kasih mama :*
Terima kasih mama :*

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *