4

Tetiba Hamil di KRL

Menjalani keseharian di Jakarta dan bertempat tinggal di Bekasi adalah rutinitas di hari kerja saya. Pada awalnya memang terasa saat berat, saya harus menempuh sekitar 40 km untuk bisa ke kantor. Belum lagi dengan keadaan lalu lintas yang anomali. Saya berusaha mencari moda transportasi yang tercepat dan termurah, untuk itu saya harus mencoba berbagai alternatif angkutan yang ada di Jakarta. Akhirnya jalur yang paling sederhana dan tidak menggunakan banyak tenaga adalah dengan menggunakan KRL Jabodetabek.

Rute KRL yang paling pas menurut saya adalah dari Stasiun Gondangdia (arah Jakarta Kota) ke Stasiun Cakung (arah Bekasi), selebihnya saya menggunakan transportasi online ataupun bus TransJakarta yang saya sesuaikan dengan kondisi dan mood saat itu.

KRL commuter line Jabodetabek adalah transportasi yang menyenangkan bagi saya. Tidak akan kita temui kemacetan di jalan, kecuali kepadatan arus kereta yang harus bergantian untuk masuk keluar stasiun. Kadang sesekali yang harus dipupuk sabar adalah saat di Stasiun Manggarai, stasiun transit dimana kadang-kadang harus menunggu penumpang lain, mungkin supaya keretanya lebih maksimal memuat penumpang. Biayanya pun tidak mahal, 25km pertama hanya Rp. 3.000,- selebihnya ada tambahan Rp. 1.000,- untuk 10 km berikutnya. Dengan menggunakan e-card seperti e-money (Bank Mandiri), flazz (Bank BCA), brizzi (Bank BRI) kita dapat dengan mudah dan cepat untuk mendapat pelayanan commuter line ini tanpa antri di loket. Selain itu KRL juga mengeluarkan kartu sendiri yang sama fungsinya dengan e-card. Jika tidak kita harus mengantri untuk mendapatkan kartu single trip sebagai pengganti tiket saat masuk keluar stasiun.

Di KRL hukumnya jelas, ada kursi prioritas yang diperuntukkan khusus untuk lansia, penyandang disabilitas dan ibu hamil dan balita. Memang sih masih kadang harus berdiri kokoh dan kuat untuk bertahan dari orang-orang yang kadang menyerbu masuk saat kereta berhenti di stasiun. Apalagi jika masih dari jendela KRL masih ada kursi yang kosong. Untuk peron terdepan dan paling belakang adalah khusus wanita. Awalnya saya memilih di peron ini, tetapi melihat kondisi tidak bersahabatnya antar sesama wanita saya sekarang malah menghindarinya. Di peron tengah masih ‘lebih manusiawi’. Para lelaki biasanya masih berbaik hati menyerahkan kursinya jika melihat ada perempuan yang berdiri. Tapi itu pun jarang, masih banyak yang pura-pura tidur, menutup muka dan seakan tidak peduli akan sekelilingnya. Tidak mengapa, pikir saya, toh yang besar hati yang lebih berbahagia. Jika dirasa kursinya lebih membahagiakan itu pilihannya.

Saya tidak pernah keberatan untuk berdiri selama di KRL, asal KRLnya tidak mengambil sikap seperti angkot yang lagi ngetem lama. Beberapa hari lalu saya naik ke peron yang memang tempat duduknya sudah terisi semua. Walaupun ada beberapa anak lelaki muda yang duduk dan tidak tergambar niat memberikan kursinya kepada orang lain. Seorang bapak tiba-tiba menegur saya. “Bu, duduk saja di situ, suruh anak-anak muda itu berdiri”, katanya. Saya dengan tersenyum menolak dan berterima kasih ke Bapak itu. “Tidak apa-apa pak, terima kasih.” Tapi Bapak itu bersikeras akhirnya orang-orang lain juga menoleh. “Ibu hamil ya? duduk aja bu!”, sambil ikut meminta anak-anak muda itu berdiri. Nah loh! yang hamil siapa, yang minta duduk siapa?

Belum juga saya menjelaskan, tiba-tiba pak Satpam yang ada di peron sudah menyuruh anak-anak itu berdiri. Serba salah! Saya kan tidak lagi hamil, tapi hampir seisi peron sudah menunjukkan kursi untuk saya. Terpaksa dengan malu hati saya duduk saja. Seorang gadis di sebelah saya sempat ngomong, “Ibu gak ngomong lagi hamil, saya kan bisa berdiri”. Duh tambah kacau. Saya cuma tersenyum dan menepuk-nepuk pahanya, ingin mengatakan tidak apa-apa.

Saya jadi malu sendiri, mungkin juga baju yang saya kenakan saat itu memang bermodel babydoll, sehingga kelihatan seperti orang hamil. Padahal perut saya rata loh! tetap olah raga setiap ada kesempatan. Apakah akan saya jadikan dress code khusus selama saya naik di KRL? lumayan juga dapat tempat duduk, tetapi saya memilih berdiri saja dari pada dianggap hamil. Apalagi di usia segini, disaat saya sudah waktunya punya cucu.

4 Comments

    • gak juga Nan, soalnya banyak orang yang pura-pura gak tau
      Kecuali samperin satpam dan bilang, Pak saya hamil… tanggung jawab dong #eh maksudnya cariin tempat duduk dong 😀

  1. Kadang serba salah jg sbagai yg duluan dapet t4 duduk di krl.
    Pengalaman dulu..klo ada emak2 yg -maaf- rada ndut perutnya suka nebak2 sendiri..itu hamil gak ya?.
    Ditebak hamil ternyata tidak kuatir tersinggung
    Ditebak gak hamil ternyata hamil di-sinisin sama penumpang laen. :))

    • Pernah juga ada sesama wanita yang negor, ibu hamil ya duduk aja bu..Jawabnya, gak kok!

      #krikkrik

      x.x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *