2

Serasa Punya Anak Lagi

Masih terheran-heran saya melihat tingkah laku anak-anak sekarang. Sangat berbeda dengan keadaan kita dulu. Saya masih ingat ketika saya mulai akrab dengan seseorang, mama langsung mendudukkan saya di hadapannya dan menegur ini itu. Merasa terhakimi langsung pada detik itu. Dan itu sangat kurang baik, karena melihat dari sisi pribadi, saya bukan orang yang suka ditegur lebih suka diberi pemahaman.

Mengingat hal itu saya tidak ingin melakukan hal yang sama dan membuat anak saya merasakan hal yang sama. Zaman memang sudah berbeda, dulu untuk dekat sama seseorang saya di usia kuliah. Dimana saat itu teman-teman sudah memiliki pasangan, agak terlambat untuk ukuran masa itu. Dan itu juga yang membuat saya merasa anak anak sekarang sangat cepat dalam bergaul. Mungkin penyebabnya adalah media yang semakin banyak, sudah ada internet yang memudahkan interaksi. Saya cuma bisa mengingat dulu hanya bisa kagum sama penyiar radio tanpa bisa apa apa.

Kakak merasa sudah waktunya, liburan kemarin sebulan sudah memiliki arti yang besar dalam hidupnya, ya mendapat pacar. Awalnya dia ragu memberitahukan, tetapi menelpon sepanjang jalan sewaktu kami bersama-sama rasanya itu bukan telpon biasa. Saya mulai menganalisa dan harus memutuskan harus bersikap bagaimana.

Mengingat waktu anak-anak yang terbatas, saya tidak ingin menambah batasan lagi. Komunikasi yang penting adalah keterbukaan. Saya menerima semua perkembangan pribadi yang terjadi dengan mereka, karena jika demikian saya akan lebih tahu apa yang terjadi dengan mereka.

“Ummi, palla’ma gombal,” kata kakak yang kira-kira artinya dia sudah pandai merayu. Saya mengiyakan dan memujinya. “Iya nak bagus itu, tetapi ingat yah segala ucapan itu adalah tanggung jawab, jika sudah menyatakan sesuatu harus ditepati,” Mungkin saya akan terus melakukan seperti itu, mendengar dan mengoreksi.

“Ummi, tolong titip pesan disampaikan …. dan …. soalnya … ,” baiklah, sekarang saya sudah berfungsi sebagai messenger juga, tapi tidak mengapa saya senang melakukannya. Saya senang menjadi bagian dari perkembangan pribadi anak anak saya. Saya yakin dunia ini masih terlalu indah buat yang jatuh cinta, sisi yang lain pasti akan muncul, saya cuma berharap tetap bisa dengan mereka menghadapinya. Dan memang benar rasanya, seakan punya anak lagi dan itu menambah cerita yang menyenangkan.

 

2 Comments

  1. haduh…si kakak udah punya pacar aja 😀
    masih mending dong itu..ini malah di tknya sedja, ada orangtua murid yang cerita tentang anaknya. katanya “ma, si A itu cakep banget lho.. enak juga kalau diajak main. saya mainnya sama dia aja ya”
    *kemudianmamanyasianakpingsan*

    dan memang iya, kalau pas lagi antar sedja ke sekolah. Anak yang dimaksud itu kalau main atau jam belajar gitu maunya ya dekat si A 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *