Keluarga

Saya dan Hakka

Sangat sedikit cerita yang saya dapatkan dari ayah saya mengenai asal-usulnya. Bahkan kerabat yang masih tersebar di negeri ini. Yang saya tahu adalah, jika seseorang bermarga Candinegara, bagaimanapun ejaannya, itu adalah kerabat dari ayah saya.

Hakka adalah sub suku dari Tiongkok. Arti Hakka sendiri atrinya keluarga tamu atau pendatang. Ada kemungkinan nama suku ini diambil dari kehidupan yang berpindah-pindah. Sama seperti ayah saya, yang katanya datang dari negeri tirai bambu, yang mendarat di Ambon dan akhirnya menetap di Makassar setelah memperistri ibu saya.

Jadi kalau ditilik dari urutan generasi saya adalah generasi ke dua keturunan langsung yang datang menetap di Indonesia. Sementara rata-rata keturunan Tiongkok yang umum di Indonesia ini sudah mencapai 3 sampai 4 generasi.

Orang Hakka dikenal sebagai orang-orang yang rajin dan ulet bekerja. Dan memang benar ayah saya sebagai buktinya. Pribadi yang sederhana dan tidak pernah mengenal istilah letih atau menyerah.  Tekun dan rajin bekerja. Sebagai seorang pendatang ayah saya memang tidak memiliki harta yang bisa diandalkan untuk menghidupi keluarga. Tetapi untuk bisa memperoleh Bon A dan Bon B (istilah accounting dan cost accounting sekarang) ayah saya belajar sendiri. Tidak pernah menginjakkan kaki di dunia pendidikan formil tapi mampu menjadi akuntan handal di tempat dimana beliau bekerja.

Katanya jika ada pepatah mengatakan bahwa orang Tiongkok adalah orang-orang yang rajin dan ulet, orang-orang Hakka ini dua kali lipat kerajinan dan keuletannya.

Dari literatur yang saya baca, orang-orang Hakka banyak tersebar di seluruh dunia karena pada abad ke-18, pemerintah Qing menekan orang-orang Hakka akibat pemberontakan yang tidak berhasil. Pemberontakan Taiping yang dipimpin orang Hakka yaitu Hong Xiuquan, menjadikan orang-orang Hakka mengalami masa masa yang berat. Perang saudara pun terjadi yang mengakibatkan mereka akhirnya keluar dari negeri sendiri.

Sekilas memang pernah ayah saya bercerita bagaimana sedihnya dia harus meninggalkan ibunya, dengan bayangan di kepala tidak akan bertemu lagi selamanya. Yang dibawa hanya sebuah foto hitam putih berukuran 10R, bahkan kabar ibunya wafat pun didengar dari kerabat-kerabatnya. Sebagai seorang anak yang berusia 11 tahun saat itu, sepertinya bukan merupakan hal yang mudah untuk dilalui.

Tapi bukan ayah saya jika tidak tegar, bukan orang Hakka yang tidak siap dengan segala kondisi. Saya pun akhirnya belajar dari beliau.

Saya memang tidak dekat dengan kerabat ayah, mungkin karena saya sudah terasimilasi dengan ibu saya yang punya darah Sinjai. Tetapi darah Hakka saya yakin tetap mengalir dalam diri saya. Minimal itu yang selama ini menguatkan saya dalam menghadapi setiap masalah yang ada.

Berikut sajak dari Wilson Tjandinegara, (yang mungkin merupakan kerabat ayah saya) yang diambil dari kumpulan sajak, “Rumah Panggung di Kampung Halaman”, sajak yang diilhami oleh Tragedi Mei 1998.

 

DI MANAKAH NURANIMU!

Apakah dosanya
maka direncah kelopak bunga
dan dinodai tiada tara

Di manakah nuranimu!

Hanya hewan
bisa melakukan
perbuatan terkutuk itu!

Di manakah nuranimu!

Andai sang korban
adalah anak, istri
atau saudara perempuanmu
apakah kau terima?

Di manakah nuranimu!

Kau reguk madu perawan
kau hancurkan masa depan
insan lemah tanpa dosa
kini memeluk duka lara

Di manakah nuranimu!

Walau kali ini kau terbang bebas
takkan lolos pengadilan Tuhan!

Ya, Tuhan! Turunkan hukum keadilan
bagi pelanggar ajaranmu

Tanggerang, Mei 1998

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *