0

Sadarlah!

“Sadarlah”, judul dari sebuah buku yang saya dapatkan beberapa hari yang lalu. Saat itu masih pagi sekitar jam 9 di hari Sabtu, saya sedang menunggu angkutan kota-angkot, yang memang jarang berkeliling di daerah perumahan tempat saya tinggal untuk sementara, di daerah Bekasi.
Dua orang wanita muda mendekat dan menyapa saya dengan ramahnya.

‘Maaf Bu, boleh saya minta waktu Ibu? saya bukan mau jualan” katanya

Adalah lazim kita bersikap defensif dengan orang tidak dikenal yang datang menyapa. Umumnya yang menyapa pasti punya kepentingan terhadap yang disapa. Saya menyadari penolakan dalam diri saya, tetapi saya berusaha untuk tetap ramah.

“Ibu suka membaca? Saya mau berbagi info tentang kesehatan” sapanya teduh, seteduh wajah putihnya yang cantik yang dinaungi topi bundar berwarna biru muda.

“Silahkan,’  saya menjawab dengan ragu sambil melihat di sekeliling, berharap ada yang menarik saya menjauh dari keadaan saat itu, tapi tak satu pun angkot yang tampak.

“Apa yang Ibu tahu tentang bagaimana cara menjaga kesehatan?”.

Saya  mulai kurang nyaman. Ini berbagi info atau sedang ujian? Saya berpikir untuk menjawab dengan praktis dan yang bisa dengan segera membuat percakapan ini berakhir.”Makan yang sehat dan olahraga,”  saya yakin tidak akan ada bantahan akan jawaban saya.

“Benar sekali Bu, ini saya kasih buku yang isinya mengenai hidup sehat, di dalam buku ini …”

“Wah maaf, angkotnya sudah datang, saya permisi dulu,”  saya memotong penjelasannya dengan perasaan girang, Saved by the bell.

“Wah sayang sekali, tapi Ibu bisa ambil saja buku ini,’ katanya sambil menyerahkan buku semacam buletin kepada saya. Saya berterima kasih kemudian pamit.

“Sadarlah”, sebuah buletin yang diterbitkan oleh JW.org. Sepertinya saya pernah mengenal sekilas situs ini. Situs yang digunakan oleh saudara-saudara kita yang beragama Kristen untuk memberikan warta tentang keyakinannya.

Tidak masalah bagi saya untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya, karena saya merasa punya pengalaman dan proses berpikir yang menurut saya telah siap menerima informasi apapun dan menyaringnya untuk konsumsi pribadi saya sendiri.

Buletin ini saya bolak-balik sambil terus berpikir. Apa yang membuat dua wanita muda itu memilih saya? Apakah random? Isinya memang bermanfaat, artikel-atikel yang umum menghiasi halaman-halaman depan. Semakin ke belakang semakin menjurus ke muatan spesifik, memuat kutipan-kutipan Alkitab.

Saya tetap berpikir keras, apa yang menyebabkan mereka memilih saya. Saya berhijab, yang menunjukkan ciri kepercayaan yang saya anut. Agama saya pun mayoritas di negara ini. Belum lagi kisruh tentang agama yang sedang panas akibat dicampur adukkan dengan kepentingan politik.

Mengapa saya? Apa mereka tidak kuatir saya tersinggung? Jangankan terang-terangan memberi buku, status no mentiom saja bisa membuat orang-orang mudah terpancing emosinya.

Saya meriviuw kembali’, apakah ini kesempatan baik untuk membuat orang lain “sadar’ seperti mereka? Dimana banyak  kebimbangan yang terjadi antara umat Islam sendiri. Diantara saudara seiman saling menghujat satu dengan yang lain. Bisa jadi membuat kita-kita menjadi lemah terhadap keyakinan kita sendiri. Di saat kita memilih untuk diam dan damai, sebagian malah menuduh kita sebagai orang yang diragukan keimanannya.  Apakah kita ingin melemahkan saudara seiman dan mendorongnya kepada “agama” yang lebih tentram?

Bahkan saya pernah mendapatkan postingan dari seorang teman di sosial media. Meng-capture status orang lain yang isinya kalau suka dan mendukung Ahok harusnya masuk Kristen saja.Ahok yang bukan nabi seorang nabi menuntut saya. Saya tidak mengerti logika berpikirnya.

Jika kita ingin saudara-saudara kita selamat, seharusnya tidak malah mendorongnya keluar lingkaran. Itu kalau kita yakin agama kita menyelamatkan, kecuali jika ingin selamat sendiri. Tetapi itu bukan ciri Muslim. Ikram, melayani sesama itu yang utama.

Sadarlah, seharusnya yang kita tampakkan adalah kedamaian yang bersumber darii hati. Bukan ujaran kebencian atau sinisme yang mencerminkan penguasaan diri yang kurang maksimal. Reaktif dan destruktif.

Jangan potong ilalangnya, tumbuhkan saja padinya.

Jangan kita serang saudara saudara seiman kita tapi tampakkan kebaikan dan kedamaian dari agama yang sempurna ini. Masalah bela agama silahkan dengan keyakinan masing-masing. Tetapi orang tidak akan nyaman dengan kebencian, hasutan, hujatan, kecuali dia adalah bagian dari hawa nafsunya.

“Sadarlah”, buletin yang menyadarkan saya betapa keyakinan itu harus dibarengi dengan keterbukaan. Sama ketika saya membuka diri untuk mempelajari agama Islam. Dengan penuh kesadaran pun saya memilihnya sebagai sumber ketenangan dan kedamaian diri.

Jangan takut untuk hidayah yang diberikan oleh Sang Pengatur, tetapi takutlah jika kita sebagai asbab yang dapat membuat orang lain tersesat.

Wallahu alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *