Kerja

Rumitnya Kisah Cinta di Dunia Kerja

 

Kerja ya kerja, cinta ya cinta. Harusnya seperti itu, saya sampai sekarang memperjuangkan aturan dalam perusahaan, yang punya hubungan suami istri tidak akan bekerja di satu perusahaan yang sama.  Tidak efektif dan cenderung menjadi biang permasalahan.

Kejadiannya memang berawal dari urusan kantor, cuma karena berkenaan dengan pribadi jadi sentimen orang ini juga ikut pribadi. Ya gak apa apa, saya anggap saja dia memang gak paham.

Mengatur kantor yang ada mess di dalamnya memang gampang-gampang susah. Sehari penuh bersama-sama dengan rekan sekerja bisa membuat hubungan jadi lebih akrab, bahkan melebihi keakraban yang wajar.

Demikian yang terjadi, sebutlah Y, perempuan yang kami datangkan dari Jawa untuk niatan bekerja ternyata kepincut dengan suami orang, X yang sudah bekerja lebih dulu. Kegelisahan mulai tercium dimana-mana,orang sudah mulai kasak-kusuk, saling menyampaikan ketidaknyamannya satu dengan yang lain. Rasanya persoalan pribadi ini sudah mulai mengganggu suasana bekerja, akhirnya dengan niatan ingin memperbaiki, kami melakukan konseling.

Sayangnya tidak dianggap oleh yang bersangkutan, apalagi Y ini merasa dekat dengan Expert yang selama ini memang dibantu untuk alih bahasa. Dengan tanpa pemberitahuan ke management tiba-tiba pergi meninggalkan mess dan tempat kerja bersama dengan si X yang sedang cuti.

Bagus sekali! pikir saya. Saya langsung bergerilya sampai ke pusat hanya untuk menetapkan posisi bahwa Y tidak boleh lagi kembali karena tidak menghargai aturan. Sekali ada yang diloloskan pasti penegakan aturan tidak berjalan dengan baik.

Dramanya belum selesai, tiba-tiba dia datang bekerja dan mengaku dipanggil si Expert. “Maaf, anda tidak seharusnya berada di tempat ini, karena tempat ini punya aturan”, begitu yang saya sampaikan. Dia melengos dan pergi.

Selesai? belum. Si X yang merasa “pacarnya” tidak diterima lagi mengadakan aksi mogok. Mengundurkan diri.  Silahkan, kata saya. Jika hati sudah tidak berada pada pekerjaan kita, jangan dipaksa hasilnya akan buruk bagi keduanya.

Beberapa saat kemudian tenang

Tiba-tiba si X datang dan masuk di mess karena katanya dipanggil kerja lagi. Agak aneh menurutku karena bukan kita yang memberhentikan, dia berhenti atas kesadaran, atau mungkin emosinya, atau mungkin cuma mau ngancam, saat itu.

Akhirnya karena memang dia memiliki keahlian yang dibutuhkan oleh perusahaan, saya cuma memberi solusi ke management. Nih orang gak bisa jadi karyawan baik, tapi karena punya keahlian kita pakai saja dengan kontrak konstruksi, tidak mendapatkan hak dan fasilitas seperti karyawan. Akhirnya sama-sama setuju, dan bekerjalah dia, kami pun tenang.

Semalam si Y rupanya datang ke acara pernikahan salah seorang teman kantor. Di depan saya dia menyapa “suaminya” dengan keras. “Sayang, mau sepiring berdua ya?”. Saya pengen tertawa, cuma dalam hati saja. Saya mengerti dia merasa insecure, mau menunjukkan bahwa mereka bisa bercinta tanpa perlu saya halangi. Padahal masalahnya bukan itu, mau bergelut pun tak masalah asal tidak di ruang atau suasana kerja. Ini yang tidak dipahami oleh mereka.

Saya cuma kasihan saja, dia tidak berpikir setiap dia memperlihatkan sikapnya seperti itu justru balik ke dirinya sendiri. Semua orang menyapa dia tetapi saya yakin apa yang dipikirkan oleh orang lain sama seperti apa yang saya pikirkan. Namanya punya hati, silahkan diikuti tetapi jika melewati batasan yang disepakati secara umum, mungkin yang perlu kita lakukan adalah introspeksi

Jadi kalau mau jatuh cinta sama rekan kerja, mending resign dulu (dan izin ke istri) :p

 

 

One thought on “Rumitnya Kisah Cinta di Dunia Kerja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *