Uncategorized

Pearl Jam, Don’t Judge the Book by Its Cover

Saya bukan penggemar Pearl Jam, jenis musik ini membuat jantung saya berdebar tak menentu, semua alat musik menjadi harmoni yang sulit untuk saya cerna. Masing-masing seolah memaksakan diri untuk menjadi dominan, tetapi sesuatu dalam hati dan pikiran menjadi alasan saya untuk menulis
 

Musik adalah dirimu
Kata orang musik itu menggambarkan kepribadian pencipta ataupun penikmatnya. Saya sendiri tidak punya kesukaan dominan terhadap jenis musik tertentu. Tetapi sangat percaya pilihan musik saya adalah gambaran suasana hati saat itu.

Dulu ibu saya sering mengeluh, lagu Final Countdown milik Europe, group music rock 1980-an sering saya dengarkan dengan volume kencang sambil belajar. Saya tahu, tidak bakal mungkin menjawab pertanyaan soal-soal ujian dengan lirik lagu tersebut. Tetapi suara melengking Joey Tempest dan melody keyboard yang dominan itu serasa memberi saya nyawa untuk lebih bersemangat.

Mungkin belajar pada saat kita di masih di sekolah menengah kebanyakan berupa keterpaksaan karena ada kata “harus belajar”. Jika buku sudah di hadapan berasa seperti habis menegak obat tidur dosis tinggi, mengantuk tak tertahan.
Begitupun saat jatuh cinta, saya lebih dominan memilih lirik yang sesuai dengan hati saat itu, yang penuh dengan kata-kata penuh harapan. Lagu “It must have been Love” milik Roxette bahkan pernah membujukku untuk mengakhiri hidup akibat tenggelam dengan lirik yang mendramatisir kenyataan bahwa saya telah kehilangan seseorang yang sangat saya cintai, saat itu.

Siapa Pearl Jam?

Seperti abad pertengahan yang gelap, lagu-lagu mainstream di tahun 80-an ini justru menimbulkan rasa mual pada sebagian orang. Mereka ingin sesuatu yang lain yang lepas dari penampilan umum para penyanyi dengan celana kulit ketat, sepatu boot dan rambut ikal yang panjang. Saya sebenarnya masuk dalam kelompok mainstream, menyukai Van Hallen, Guns N’ Roses dengan lirik lagu yang melankolis yang membuai, seakan-akan tidak ada hal yang terjadi selain jatuh cinta dan patah hati.

Menakutkan? Yah mungkin itu kesan pertama yang saya dapatkan ketika menonton video pertunjukan rock alternatif, penonton yang bebas berekspresi, terkesan asik dengan diri sendiri. Tapi saya yakin itu adalah bentuk rasa ‘berontak’ yang ingin mereka tunjukkan. Dengan melakukan itu serasa bebas berekspresi.

Group-group rock ini, muncul di pertengahan 1980-an di negara Amerika. Mereka menggolongkan diri sebagai genre baru di dunia musik dengan nama grunge. Dan sepertinya ada 2 band yang membuat jenis music ini harum, Nirvana dan Pearl Jam.

Keberhasilannya mencapai popularitas di masa itu, dan dengan sendirinya memancing band-band lain untuk bermunculan, tetapi tidak banyak yang bertahan.

Berkenalan dengan Pearl Jam

Nama Pearl Jam sudah sering saya dengar, tetapi tidak ada sedikit pun keinginan untuk mendengarkanmusiknya. Bagiku musik tersebut sangat rumit, semua alat musik terdengar dominan dan berlomba-lomba memamerkan suaranya untuk didengar khususnya melodi gitar, rupanya ini memang yang menjadi ke-khas-an musik tersebut.

Jika mendengarnya seperti jantung juga terpacu, detaknya pun seperti ingin saling mendahului. Jangankan mendengar, ingin tahu tentang grup musik aliran ini pun tak terlintas di benakku, lalu kenapa sekarang saya bisa menulis tentang ini? Yang pasti Eddie Vedder tidak pernah datang dalam mimpi dan memperkenalkan dirinya.
Perkenalan justru datang dari sahabatku, seorang pencinta fanatik Pearl Jam. Saya terpesona dengan pengetahuannya terhadap grup band ini. Jika didisertasikan saya yakin dia lulus dengan predikat summa cum laude.

Rasa penasaran membuatku tertarik. Namun sepertinya dia sangat hati-hati memperkenalkannya, dia paham cara membuat kami bisa saling mengenal. Kata-kata yang sedikit rumit, bermakna dalam, beat musik yang tidak terlalu cepat, sangat tepat menjadi pintu masuk. Lagu berjudul Alive, rupanya bisa membuat saya ingin mendengarnya. Lagu perkenalan ini unik, hingga kini saya saya masih menduga-duga arti dari lirik lagu itu, dan itu membuat saya ‘harus’ memutarnya berulang kali.

Akhirnya menyusul lagu yang menyentuh Yellow Ledbetter dan Black pun jadi langganan playlist di ipodku, yah.. ternyata beberapa lagunya memang enak dinikmati. Suara Eddie Vedder ini memang khas dan menjadi sangat mudah untuk dikenali.
Hal yang lain adalah Pearl Jam punya sesuatu yang dari hati. Para pencintanya benar-benar tidak dapat disandingkan dengan ELF (Ever Lasting Friend) milik Super Junior. Jika memang cuma dari penampilan modal Pearl Jam pastilah tidak mencukupi untuk menjadi idola, tapi mereka punya kepedulian kepada penggemar, pencintanya dan itu tulus.

Pearl Jam tidak segan-segan menampakkan perhatiannya kepada penggemar. Mereka tidak pernah menempatkan dirinya tak terjangkau. Ketulusan ini memang pantas dibalas dengan cinta dari para penggemarnya. Di Indonesia pun ada. Saya tahu pasti sesuatu yang dalam yang mengikat bathin mereka dengan group musik ini.  Mereka sangat konsisten dengan pilihan mereka walaupun mereka harus bersabar menunggu Eddie Vedder untuk datang meretaskan rasa rindu mereka.

Seperti kata orang bijak jika kita mulai memikirkan sesuatu maka hal sejenis akan datang dengan sendirinya tarik menarik bagai magnet Satu persatu hal yang berkenaan dengan Pearl Jam datang padaku. Walaupun mungkin bukan saya tidak akan menjadi fans pencinta sejati tetapi minimal saya bisa belajar dari rasa kesetiaan terhadap sesuatu, sangat mengagumkan.

Dengan ini pula saya belajar untuk tidak ‘menolak’ sesuatu walaupun tampak buruk atau tidak menarik sama sekali. Don’t judge the book by its cover.~ “you shouldn’t prejudge the worth or value of something, by its outward appearance alone”. Idiom ini sangat pas untuk saya. Hampir saja menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan arti kesetiaan, kecintaan yang tulus dan penghargaan terhadap sesuatu. Terima kasih untuk teman yang memperkenalkannya dan Semangat untuk para pencinta Pearl Jam, you have something to be proud of!

6 thoughts on “Pearl Jam, Don’t Judge the Book by Its Cover

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *