0

Panggung Drama

Drama memang asik kalau cuma ditonton sambil ngemil kacang goreng. Menghabiskan waktu mengaduk-aduk rasa, asik kan.

Tapi itu jika di layar kaca loh. Gimana kalau dalam kehidupan sendiri. Minta ampun gak enaknya. Drama di kantor juga ada, bahkan ini sering saya temui. Teman-teman yang seharusnya bisa gentle berbicara di depan orang yang dianggap kurang malah bicara dibelakang dengan volume tinggi dan merasa dia yang paling benar. Kalau mau koreksi atau berdebat janganlah ngumpet dibelakang boss, chicken banget kan.

Sama aja nih, besok kita jadinya diliburkan. 4 November 2016 menjadi hari yang didramatisir. Seruan untuk menangkap Ahok karena menistakan agama bertebaran dimana-mana. Tawaran bayaran malah sudah terang-terangan datang pada para warga, dari Rp.100.000 sampai dengan Rp. 500.000,- keren nih penyandang dana. Entah niatnya untuk membela agama atau yang lain.

Menggunakan massa memang salah satu cara yang paling primitif yang bisa ampuh. Menggunakan orang lain untuk mengikutkannya dalam kepentingan diri sendiri. Yang jadi pertanyaan kok orang lain mau ngikut?

Nah sepertinya harus dimasukkan dalam obyek analisa sosial. Mungkin saja karena masyarakat masih kurang sejahtera sehingga dengan iming-iming uang bisa mengorbankan apa yang diyakini, atau dibuat bodoh untuk sesuatu yang tidak dipahami benar, dan ikut larut. Bisa juga karena si provokatornya I, membuka panggung selebar-lebarnya. Meneliti apa hal yang sensitif sehingga masyarakat bisa dicocok hidungnya.

People power, ada kelebihan dan kekurangannya. Jika dilihat dari sisi managemen dan negara, aturan selayaknya ditegakkan tanpa melihat subyek. Saya lebih memilih negara dikuasai  dikontrol oleh pemerintah dan perusahaan dikontrol oleh manajemen.

Ibu jangan beri panggung kalau tidak mau terjadi drama,” begitu pesan yang disampaikan kepada saya saat menanggapi komunikasi yang kurang berjalan baik di kantor. Sangat sederhana menilai materi. Harusnya subyek dikeluarkan, artinya orang-orang yang terlibat apapun opininya dikesampingkan dulu. Karena lebih sering terjadi orang-orang menitipkan kepentingan diri sendiri kemudian dijadikan materi pembahasan. Tapi harusnya ini dapat kelihatan jelas oleh pimpinan manajemen yang cerdas dan arif.

Salah satu cara tidak memberika panggung adalah dengan mengabaikan informasi yang bersifat gossip. Persoalan 4 November ini juga panggungnya banyak, utamanya media sosial. Di laman facebook sudah bisa kita lihat jelas pertikaian yang sebenarnya tidak perlu. Ya itu bagi saya yang mengambil posisi sebagai penonton. Malas rasanya bersahut-sahutan dengan orang yang pemahamannya berbeda. Sampai kapan pun tidak ada titik temu.

Dalam perusahaan sebaiknya juga demikian. Jika memang ingin mengambil peran, tampakkan diri dan mari berbicara dengan lantang di tempat yang semestinya. Menyampaikan kekurangan orang lain itu sebaiknya tidak anonim atau bahkan mengatas namakan orang lain. Pathetic!

Anyway, ini sekadar curahan hati saja. Saya tidak mau terlibat dalam panggung yang tidak jelas. Mending sekalian bertarung dalam ring dari pada hide and seek. 

Semoga banyak orang dipenuhi oleh kesadaran sehingga paham akan apa yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukan. Termasuk saya.

“Ibu jangan ikutan lebay

Siap pak!

 

#stayconsciouseverytime

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *