Uncategorized

Pamali, ada benarnya

Saya tidak akan melupakan kejadian itu, tabrakan tidak lama setelah saya meninggalkan makanan yang sudah dihidangkan. Itu cukup menjadi pelajaran

“Jangan duduk di depan pintu, nanti susah melahirkan,”

“Jangan menyanyi di dapur nanti, nikahnya sama orang tua,”

“Jangan mandi kelamaan, nanti nikahnya juga lama.”

Begitulah beberapa kalimat pamali yang saya dengar waktu kecil dulu. Walaupun sekarang saya tidak menggunakan ke anak-anak saya tetapi saya tetap mempercayai beberapa hal tersebut. Satu diantaranya adalah meninggalkan makanan yang sudah ditersedia, siap disantap.

payung

Saya ingat kejadian waktu masih awal-awal tinggal di Bukit Baruga Antang. Sehabis masak saya menghidangkan makanan yang memang sudah siap disantap. Tidak beberapa lama saya kedatangan tamu dan mengajak untuk makan malam. Yah.. namanya diajak trus pastilah ditraktir, gak mau rugi yah saya ikut aja. Saya masih ingat momen ketika saya menutup kembali tudung saji itu. Pikiran saya sudah ke restoran yang bakal saya kunjungi malam itu.

“Brak!”, tak terelakkan mobil teman saya ini menabrak mobil yang di depannya. Kejadian sekedip mata dan itu masih di jalan inspeksi PAM tidak jauh dari kompleks rumah saya. Oh iyah, sebenarnya sebelum berangkat ada keraguan, antara mau pergi dan tidak. Dan sedetik kejadian itu saya langsung menyadari diri, ini pasti karena saya meninggalkan rejeki yang sudah ada di hadapan saya.

Sedih, tapi yang utama saya mendapat pelajaran. Sampai sekarang saya sudah tidak bisa melepas kejadian tersebut dari ingatan. Dan itulah setiap saya pergi dan orang mengajak makan atau pun mengingatkan makan, saya pasti mencari sesuatu untuk bisa dicicipi, apapun atau milik siapa pun 😀

Nah, sekarang yang jadi pertanyaan, apakah  tiga kalimat pamali di atas apa benar terjadi yah? siapa tahu ada yang punya pengalaman 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *