Nonton · Sehari hari

Nonton Konser Idola

Bonjovi Live in Jakarta! 9 September 2015 sudah saya tandai jauh-jauh hari, tidak akan ada kegiatan lain selain menonton konser Bon Jovi. Sempat dilema saat membeli tiket dua bulan sebelumnya, saya harus pandai-pandai menakar keinginan dan kemampuan saya. Menonton di VIP jelas tidak mungkin, uang senilai tiga setengah juta rupiah bagi saya sangat besar untuk sekadar menonton seorang idola. Akhirnya saya memutuskan membeli tiket tribun, saya pikir di festival yang tidak ada tempat duduk selama pertunjukan sudah tidak cocok lagi di usia saya. Duduk di tribun atas Geloran Bung Karno dan menikmati ambiance dan euforia para penggemar Bon Jovi pasti terasa megah. Tiket akhirnya terbeli dengan harga lima ratus ribu ditambah pajak dan lain lain.

Keriuhan mulai terasa sehari sebelum konser, di media sosial sudah berseliweran meme yang membuat kita geli sendiri dan tidak sabar untuk bertemu om John and the team. Walaupun banyak teman-teman yang menampakkan dirinya bakal nonton, saya tetap santai dan tetap keukeuh untuk menonton sendiri. Saya pikir jika semua orang tujuannya sama, saya pasti sudah merasa berada bersama sama dalam crowd.

Jam 7 malam saya baru tiba di GBK, sudah mulai ramai dan ternyata begitu masuk di lapangan hampir semua kursi tribun sudah terisi. Untungnya saya sendiri, nyempil dan memilih tempat sesuai selera menjadi lebih mudah. Sam Tsui sudah bernyanyi sedari tadi rupanya, tapi saya tidak terlalu mengenal lagu-lagunya. Saya duduk sambil menerawang tentang Bon Jovi, idola saya sewaktu SMA.

Mama sering bertanya ketika saya mendengarkan musik dengan suara keras saat belajar. Apa bisa masuk tuh pelajarannya? katanya. Tapi itulah, musik bon jovi membuat saya bersemangat. Slippery When Wet adalah album yang paling saya sukai, setelah itu single John Francis Bongiovi, Jr di Young Blood membuat saya lebih jatuh cinta lagi. Penyesalan yang dalam saya rasakan di saat Bon Jovi tiba di Jakarta tahun 1995. Saat itu saya masih kuliah dan saya masih bergulat dengan kerasnya kisah kehidupan saya waktu itu. Alhamdulillah, gumanku. Saya akhirnya bisa melihat secara langsung walaupun cuma sebesar jari telunjuk jika dipandang dari tempat duduk saya.

Penonton yang katanya sekitar 40.000 orang itu benar-benar menyemut, apalagi terlihat dari tribun atas. Mereka pasti berharap yang sama seperti saya, mengingat kembali masa-masa jaya dengan lagu-lagu nge-hits yang sepertinya tak lekang oleh waktu. Sayangnya, dari play list saya hanya mungkin mengenal setengah dari lagu-lagunya. Entah itu album baru, atau album yang terlewati.

Berasa seperti mesin motor yang baru dipanasi, mati lagi, panas lalu mati begitu pas lagu living on the prayer, semua berjingkrak dan setelah itu selesai. Saya geli sendiri. Tidak rugi rasanya beli di tribun, sudah benar pas lah dengan nilai segitu saya tidak sampai kecewa. Om John walaupun sudah setengah abad masih tetap keren. Body dan aksi panggungnya sangat energik, tetapi suaranya sudah tidak bisa menyamai ketika dia masih muda dulu, nafas sudah terputus putus dan tidak bisa lagi di nada tinggi.

Usia memang berpengaruh, sama ketika beberapa lagu yang seharusnya bisa membuat penonton bersemangat malah dinyanyikan dengan aransemen lagu slow, kita bahkan harus terdiam lama untuk mengenali lagu yang dinyanyikan hanya dengan melalui lirik.

Apapun itu, kesan tentang Bon Jovi tetap menarik, meskipun si ganteng Richie Sambora tidak lagi berada di dalam group digantikan dengan gitaris baru yang menurutku wajahnya mirip Josh Groban. Saya pulang dengan rasa puas, sekali lagi bersyukur dapat memperoleh kesempatan untuk menonton secara langsung idola saya. Dan itu cukup ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *