Novel

Natisha, Cerita Cinta yang Bikin Merinding

Khrisna Pabhicara, seorang seniman dari Makassar. Saya kenal beliau pertama kali ketika pada hajatan MIWF di pulau Barombong, beberapa tahun lalu, Beliau dengan lantangnya membaca puisi di dermaga. Puisi dengan bahasa Makassar. Saya sangat terkesan. Beberapa waktu berikutnya saya juga menyempatkan menonton Beliau membacakan puisi di Taman Ismail Marzuki, saat itu bersama dengan Aan Mansyur, salah seorang pengarang puisi Makassar yang ngetop di film Ada Apa dengan Cinta II.

Om Khrisna, begitu saya memanggil beliau. Terkenal dengan buku “Sepatu Dahlan”, cerita yang berisi motivasi yang berdasar dari kehidupan masa kecil Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN. Cara om Khrisna menyampaikan kisah seperti air mengalir, dan dengan mudah melarutkan kita dalam cerita tersebut.

Natisha, buku yang diluncurkan bertepatan dengan acara Makassar International Writers Festival tahun ini. Cerita yang mengambil setting tahun seribu sembilan ratus delapan puluhan. Saat itu saya sudah tidak mendengar lagi cerita tentang Parakang. Tetapi dalam cerita ini om Khrisna “menciptakannya”. Parakang dulu menjadi momok, apalagi bagi saya yang selalu ngeri dengan cerita mistis.

Saya masih ingat di belakang rumah yang berdiri megah di antara rumah rumah sederhana. Sebuah rumah yang konon katanya pemiliknya adalah Parakang. Setiap malam Jumat, saya deg-degan. Mengawasi dari jauh antara takut dan mau tahu. Kata orang-orang ritualnya setiap malam Jumat, ketika lampu dimatikan bertepatan dengan jantung yang berdegup kencang. Padahal mungkin saja si pemilik rumah cuma mematikan lampu seperti biasa sama seperti kita mematikan lampu.

Cerita tentang Parakang juga sangat santer saat kami melaksanakan Kuliah Kerja Nyata. Belum ada gadget yang bisa memotret untuk dishare. Belum ada BBM yang bisa broadcast message. Kami yang tinggal di pedesaan, masih sangat sering mendengar cerita tentang ilmu sesat tersebut.

Parakang, adalah manusia yang menjadi mahluk jadi-jadian karena punya hajatan tertentu. Tidak menempuh jalan yang selayak manusia biasa. Memuja selain Pencipta dan kadang menjadikan orang lain sebagai tumbal.

Cerita cinta Jamil daeng Tutu dengan Natisha, rupanya terganggu dengan kehadiran Rangga, si manusia jejadian. Persembahan terakhir yang diinginkan Rangga adalah Natisha. Dengan itu dia dapat menyempurnakan ilmunya.

Latar belakang budaya Makassar membuat saya merasa lebih mudah masuk ke dalam cerita. Masuk ke dalam pikiran Jamil daeng Tutu yang mengikuti keinginan penulisnya dibawa di masa kini dan masa lalu, bergantian. Saya sampai harus menyimak dengan benar akibat kenangan dan masa kini yang diceritakan oleh Daeng Tutu.

Kisah yang menarik, sama seperti membaca cerita misteri Lima Sekawan. Banyak teka-teki yang harus dipecahkan demi untuk mencari Natisha yang telah diculik oleh Rangga semalam sebelum pernikahannya dengan Jamil Daeng Tutu.

Saya sangat merekomendasikan buku ini. Ada sejarah dan budaya Makassar yang membuat saya bergumam, “Oh begitu rupanya”. Tidak menyesal menghabiskan waktu membaca buku ini, dan saya tidak sabar untuk menunggu cerita-cerita karangan om Khrisna lainnya. Sukses terus om, selalu berkarya untuk pelestarian budaya lokal yang sudah hampir hilang jejak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *