Uncategorized

Menulis Surat untuk Anak

Baru dua kali saya menulis surat ke anak saya, Amdan,  yang sedang belajar di Temboro Karas Magetan. Surat yang pertama yang saya kirimkan bersamaan dengan paket pesanan cemilan yang setiap bulan menjadi jatahnya. Tulis lagi ya umi, Lucu ki, saya ketawa baca suratnya, tapi nanti kasih kata-kata penyemangat nah, katanya saat itu.

Sudah baca suratnya nak? Saya bertanya untuk surat yang kedua. Iya umi, menangiska bacaki, jawabnya dengan bahasa Indonesia-Makassar yang masih kental padahal dia sudah tiga tahun belajar di Jawa.

Kaget juga saya mendengar jawabannya, tiba-tiba saya merasa sedih dan mencoba mengingat-ingat apa yang saya tuliskan dalam surat yang terdiri dari 6 lembar itu. Saya memang sengaja menulisnya  di atas kertas surat yang sudah sangat susah ditemukan di toko buku.

Menulis surat mungkin hal yang sepele, sama sekali tidak terpikirkan di antara komunikasi yang sudah sering dilakukan melalui percakapan telpon. Tapi setelah mendapat tanggapan dari setiap surat yang ada saya merasa anak saya lebih bisa menerima rasa dan pikiran yang saya ingin sampaikan ke dia. Sayangnya dia tidak pernah mengirim surat balasan karena belum tahu cara yang praktis untuk mengirim surat dari pondokannya.

“masa’ adek sedih ya? Kalau gitu umi gak usah tulis surat lagi” kata saya juga ikutan terharu

“Jangan umi, tulis saja membuat saya berpikir”, katanya

Makin penasaran saya dengan isi surat yang saya berikan. Seingat saya yang saya tuliskan hanya berisi keadaan saya dan bagaimana mengambil makna di setiap keadaan. Kesulitan dan kemudahan yang ada. Dilanjutkan dengan bagaimana Amdan sebaiknya bersikap jika menghadapi segala persoalan.

Dan yang pasti ditambahkan dengan kalimat, nikmati apa yang dilakukan yang penting memberikan manfaat kepada orang lain.

Menulis surat menjadi penting dan spesial buat saya, manfaatnya antara lain:

  1. Dapat mengekspresikan perasaan dan pikiran saya ke anak saya. Walaupun selama ini komunikasi telpon tetap rutin tetapi ada hal-hal yang tidak dapat kita sampaikan pada komunikasi yang dibatasi oleh waktu tersebut. Dengan surat saya bisa berpikir sebelum menuliskan, dan anak saya juga bisa membacanya berulang kali untuk dapat memahami isi surat tersebut.
  2. Merupakan wakil dari diri saya, mungkin ini yang dirasakan oleh anak saya ketika membaca surat. Seakan-akan saya lebih nyata hadir di depannya berbicara dan bercerita. Dan itu dapat dibaca lagi ketika merasa rindu ingin bertemu.
  3. Saya juga menjadi terlatih untuk menuangkan perasaan dan pemikiran dengan menulis. Apalagi menulis dengan tangan yang terasa berat dibandingkan menggunakan keyboard yang ada di depan komputer. Lebih hati-hati memilih kata sebelum menulis sehingga tulisan tetap rapih dan juga mengajarkan saya untuk berusaha mengembangkan perbendaharaan kata yang semakin dekat mewakili pikiran dan perasaan saya

 

Saya akan terus mengirimkan surat ke anak saya, walaupun tangan ini rasanya pegal karena tidak terbiasa menulis dengan tangan lagi.

Umi, makin ke belakang tulisannya makin kabur. Saya pikir pasti umi capek menulis. Begitu kata Amdan yang bahkan tahu usaha saya ketika menulis surat tersebut.

Mari budayakan menulis surat pribadi ke orang-orang tercinta kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *