Uncategorized

Menuju Komunitas ASEAN 2015, Jadi Pasar Atau Ikut Bermain?

Panggung seminar
Panggung seminar

Sabtu pagi biasanya jadi pagi yang menyenangkan buat saya bersama dengan Minggu pagi, karena itu artinya saya bebas untuk bermalas-malasan di rumah dan menikmati hari dengan hanya bermain game dan nonton TV. Tapi sabtu tanggal 24 Agustus kemarin berbeda, masih pagi saya sudah bersemangat untuk bangkit dari tempat tidur, mandi dan segera keluar rumah.

Hari itu saya berniat menghadiri sebuah seminar sehari yang diadakan oleh Kemenlu bekerjasama dengan komunitas Blogger ASEAN. Judul seminarnya “ASEAN Connectivity Menuju Komunitas Ekonomi ASEAN 2015: Peran dan Kontribusi Blogger dan Social Media  dalam Menghadapi Integrasi Ekonomi ASEAN”. Sebenarnya agak ragu juga melihat judul seminar yang sepertinya agak berat itu, tapi saya penasaran tentang apa itu ASEAN Connectivity dan komunitas Ekonomi ASEAN 2015 jadi saya pikir tidak ada salahnya untuk meluangkan waktu di hari Sabtu itu.

Setiba di gedung Carakaloka Pusdiklat Kementerian Luar Negeri, acara belum dimulai. Saya sempat menyapa pak Amril yang aktif di Komunitas Blogger ASEAN sebelum mengambil tempat duduk di barisan depan. Tidak lama kemudian suasana makin ramai hingga saya sadar kalau peserta hari itu ternyata sangat banyak dan terlihat antusias.

Tifatul Sembiring ketika memberikan sambutan
Tifatul Sembiring ketika memberikan sambutan

Acara hari itu dibuka dengan sambutan dari bapak Tifatul Sembiring. Lelaki berdarah Sumatera Barat ini memang terkenal suka berpantun, dan itu pula yang ditunjukkannya di atas mimbar. Beliau membuka dan menutup sambutannya dengan deretan pantun yang disambut meriah oleh para hadirin. Bukan cuma pantun yang disodorkan pak Tif (sapaan akrabnya) pagi itu, tapi juga beberapa hal terkait aktifitas para netters di Indonesia. Menurutnya pemerintah sudah mewadahi para blogger di Indonesia untuk berekspresi sebebas-bebasnya menggunakan media internet sepanjang tidak melanggar aturan hukum yang ada. Pak Tifatul juga mengingatkan agar para blogger Indonesia lebih banyak memuat konten positif tentang negeri tercinta ini karena konten Internet dapat dibaca siapa saja dan orang dari mana saja.

Selain pak Tifatul Sembiring, hadir juga Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri, I Gusti Agung Wesaka Puja serta Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembiayaan Internasional – Kemenko Bidang Perekonomian, Rizal Affandi Lukman. Keduanya ikut berbicara tentang kerjasama ASEAN dan rencana Komunitas ASEAN 2015.

Satu hal yang buat saya jadi kejutan hari itu adalah tampilnya wakil dari kedutaan besar Amerika Serikat untuk ASEAN, David Lee Carden. Mengejutkan karena saya tidak mengira kalau acara hari itu akan dihadiri oleh seorang pejabat dari negara sebesar Amerika Serikat. Wah, acara ini tidak main-main, pikir saya.

Dalam pemaparan singkatnya, David Lee Carden mencoba menerangkan perspektif Amerika Serikat tentang komunitas ekonomi ASEAN dan berbagi tentang pengalaman Amerika Serikat dalam menjalankan diplomasi publik menggunakan media sosial. Sebagai negara yang lebih maju Amerika Serikat tentu lebih berpengalaman dalam hal-hal yang menyangkut penegakan hukum, perbaikan dan pengembangan ekonomi serta menata negara yang juga multiras.

Membandingkan ASEAN dengan Amerika Serikat menurut saya tidak terlalu pas karena bagaimanapun ASEAN adalah gabungan dari beragam negara yang masing-masing punya kekuatan dan kelemahannya sendiri-sendiri, belum lagi kalau bicara tentang kedaulatan. Tentu berbeda dengan Amerika Serikat yang adalah satu negara utuh dengan 50 negara bagian. Tapi meski begitu saya tetap setuju dengan pemaparan David tentang bagaimana membangun optimisme seperti yang sudah dikerjakan oleh Amerika Serikat.

Menurut David, Amerika Serikat dulunya juga seperti Indonesia. Mereka punya masalah dengan korupsi, tapi dengan konsistensi dan visi yang jelas perlahan masalah itu bisa mereka atasi. Hal lain yang menarik dari pemaparan David adalah tentang bagaimana menyatukan komunitas yang ada di Indonesia. Menurutnya, masalah Indonesia masih tergolong mudah. Tinggal bagaimana mencari kesamaan antar komunitas sehingga muncul rasa keterikatan.

Komunitas Ekonomi ASEAN, Jangan Mau Jadi Penonton Saja

Sesi berikutnya adalah sesi yang paling menarik menurut saya. Ada Shinta W Dhanuwardoyo dari Start up Indonesia,  Aidil Akbar Madjid dan Raja Sapto Oktohari dari HIPMI. Kenapa menarik? Karena dari pemaparan mereka saya jadi banyak berpikir tentang peran kita dalam Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 nanti.

Indonesia adalah negara terbesar di ASEAN, bahkan di benua Asia kita adalah negara berpenduduk terbesar ketiga. Dengan jumlah penduduk 250 juta orang, Indonesia tentu jadi pasar yang sangat menjanjikan bagi produsen manapun di dunia. Ini adalah hal yang sudah dibayangkan oleh founding father negara kita, Soekarno dan Hatta. Dengan cara berbeda, keduanya sebenarnya sepakat untuk menjadikan Indonesia sebagai negara mandiri, negara yang bisa mengurus dirinya sendiri agar tidak bergantung kepada negara lain utamanya negara yang hanya mau mengeruk kekayaan alam kita saja.

ASEAN sudah mencanangkan tahun 2015 nanti sebagai tahun penyatuan komunitas ekonomi ASEAN yang berarti membuka keran selebar-lebarnya untuk saling menyatu dan bersaing secara sehat dalam satu wadah yang sama. Sebagai negara paling besar di ASEAN, Indonesia tentu jadi pasar paling potensial. Tapi apa iya kita hanya menjadi pasar dan penonton saja? Kenapa kita tidak ambil bagian sebagai pemain juga?

Salah satu cara agar kita juga bisa ambil bagian dalam komunitas ekonomi ASEAN tersebut adalah dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Salah satunya adalah dengan memperkuat basis perekonomian kita dan saling memperkuat satu sama lain.  Hal inilah yang coba dibagikan oleh ketiga pembicara dalam sesi diskusi ketiga tersebut. Shinta bercerita banyak tentang peluang dan tantangan UKM dalam pasar bebas sementara Raja Sapto lebih banyak bercerita tentang dampak perdagangan bebas bagi pengusaha Indonesia.

Gabungan antara ketiganya sangat menarik karena benar-benar bisa dijadikan sebuah renungan tentang tantangan yang akan kita hadapi dalam komunitas ASEAN 2013 nanti. Potensi besar yang kita miliki bisa jadi sebuah posisi tawar yang menguatkan kita, tapi bisa juga jadi semacam kutukan ketika kita tidak bisa mengolahnya dengan baik. Tahun 2015 sudah dekat, tapi masih ada waktu untuk mempersiapkan diri agar kita tidak sekadar menjadi pasar tapi bisa ikut memanfaatkan ASEAN sebagai pasar.

Tiba-tiba saya jadi mengaitkannya dengan media sosial. Blogger dan pengguna media sosial Indonesia adalah yang terbesar di ASEAN tentu saja, negara lain bisa dibilang tidak ada apa-apanya dibanding pengguna media sosial di Indonesia. Tapi, apakah kita sudah memanfaatkan media sosial untuk mempersiapkan diri menuju komunitas ASEAN 2015? Mungkin belum seluruhnya karena nyatanya kita masih sering meributkan hal-hal kecil di media sosial.

Media sosial apapun bentuknya rasanya punya kekuatan yang sangat besar, apalagi bila digunakan sebagai medium untuk membagikan ide-ide positif. Kehadiran Komunitas Blogger ASEAN dengan sosialisasinya yang gencar adalah langkah maju untuk mencapai tujuan itu, meski memang tidak mudah. Tapi setidaknya ada kepedulian yang dibangun dan mampu mencolek banyak orang, salah satunya adalah saya. Saya yang tidak tahu tentang komunitas ekonomi ASEAN 2015 itu akhirnya jadi mencari tahu lewat media sosial (utamanya blog) dan hadir langsung di seminarnya. Bayangkan kalau sosialiasi itu dilakukan secara massif dan terus menerus, berapa banyak orang Indonesia yang akan siap menyambut tahun 2015 ketika Komunitas Ekonomi ASEAN terbentuk? Pasti akan sangat banyak.

Dan ketika kita semua sudah siap menyambutnya maka Indonesia tidak akan lagi sekadar menjadi pasar, tapi juga pemain. Saya yakin Soekarno dan Hatta pasti bangga melihat bangsa yang dirintisnya bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain yang sudah lebih maju.

Acara hari itu ditutup dengan sesi sharing dari penulis-penulis yang berkolaborasi menerbitkan buku berjudul DestinASEAN. Isinya tentu saja adalah cerita pengalaman mengunjungi negara-negara ASEAN. Saya tidak terlalu mengikuti sesi ini karena pikiran saya lebih banyak berkutat pada pemaparan tentang kesiapan kita menyambut Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 nanti. Duh, akankah kita siap menyambutnya? Atau jangan-jangan kita hanya jadi pasar saja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *