Uncategorized

Menitip Setitik Harapan di antara Keprihatinan, Press Tour and Marine Excursion Spermonde (1)

 

Marine Excursion ini terasa lengkap, dapat melihat dua sisi keburukan dan kebaikan, tugas kita untuk menyeimbangkannya

Press Tour and Marine Excursion di kepulauan Spermonde adalah kegiatan yang diadakan atas kerjasama Dinas Budaya dan Pariwisata Sulawesi Selatan, Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) dan Mitra Bahari.  Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak para pewarta melihat secara langsung potensi wisata bahari gugusan kepulauan Spermonde yang masuk dalam wilayah kota Makassar dan kabupaten Pangkep.

photo by daenggassing.com

Karena intinya adalah menyebarkan informasi, maka para peserta yang diudang adalah penggiat berita. Saya beserta beberapa teman mewaliki Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri. Fungsinya pun sama agar kami dapat “menceritakan” kembali bagaimana keadaan alam bawah laut saat ini. Yang ikut dari tim kami adalah ketua blogger Makassar, Daeng Ipul, Iqko yang mendapatkan kesempatan dengan cara seleksi yang dilakukan oleh komunitas, dan 2 orang lagi yang mewakili Kosh Mediatama, Perusahaan mitra Budpar SulSel yaitu Mustamar dan Lelaki Bugis.

Acara ini memang disetting dengan melakukan segala kegiatan selama dua hari di kapal. Novita Sari, kapal penumpang yang biasa digunakan sebagai kapal regular untuk ke pulau Barrang Lompo menjadi rumah kami sejak tanggal 18 sampai tanggal 20 Mei 2012 kemarin.

Setelah semua peserta berkumpul sesuai rencana kami akhirnya berangkat sekitar jam 5 sore dari dermaga pulau Khayangan, tepat di depan Benteng Fort Rotterdam di jalan Penghibur Makassar.

Acara pertama adalah island sightseeing, mengitari gugusan pulau yang kita lalui menuju pulau Barrang Lompo tempat kami persinggahan untuk makan malam. Pulau Lae-lae, Gusung, Samalona, Kodingareng Keke, Kodingareng Lompo, Barrang Caddi adalah gugusan pulau yang terlihat selama dalam perjalanan.

“Ombak itu tidak bisa dilawan”, kata Januar Jaury , anggota DPRD Tingkat I, Ketua POSSI Sulawesi Selatan , yang selalu kami panggil akrab dengan om JJ.  “Dilawan?” sempat juga saya bingung dengan istilah tersebut. “Iyah, memasang penghalang berupa kayu-kayu atau tanggul di pinggiran pulau itu percuma, itu sama saja melawan ombak. Untuk menghindari abrasi pulau seharusnya dibuatkan tanggul/tiang pemecah ombak saja. Tapi sebenarnya alam sudah menyediakan fungsi itu, melalui karang laut yang ada di sekitar pulau” lanjutnya. Saya jadi teringat kekawatiran Daeng Ipul tentang surga kecil di Spermonde ini.

Pulau Kodingareng Keke adalah pulau yang tak berpenghuni, lucu karena digelar sebagai pulau labil akibat bentuk pulaunya berubah-ubah tergantung musim yang mempengaruhi arus laut.  Di beberapa tahun lalu adalah spot snorkling dan diving yang terdekat, namun kunjungan di akhir tahun 2011 kemarin sudah tidak menarik lagi akibat karang laut disekitarnya sudah hancur.

Keseluruhan island sightseeing ini sangat mempesona, alam memaketkannya secara sempurna dengan pemandangan matahari terbenam, tak terwakilkan dengan kata-kata.

photo by daenggassing.com

Kami akhirnya tiba pulau Barrang Lompo. Karena punya waktu banyak kami bahkan sempat jalan-jalan berkeliling pulau. Pulau yang perekonomian masyarakatnya berkembang, bukan cuma nelayan atau pengumpul hasil laut saja yang ada tetapi kafe di tepi laut pun tersedia. Kami sempat melewati waktu beberapa saat disana.

Sebagian penduduk di pulau Barrang Lompo ini adalah penyelam teripang, binatang laut yang harganya mahal ini adalah komoditi yang menjanjikan. Sayangnya mereka kurang memperhatikan cara menyelam yang benar dan safety. Masih ingat beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang pemuda di pulau itu yang lumpuh karena decompression sickness yang fatal.  Decompression sickness adalah sebuah keadaan dimana akumulasi nitrogen yang terlarut setelah menyelam membentuk gelembung udara yang menyumbat aliran darah serta system syaraf.  Terlalu cepat naik ke permukaan tidak terlalu membuat tubuh tidak bisa beradaptasi dan mentralisir kandungan nitrogen dalam darah. Tetapi sepertinya masyarakat di pulau ini sudah sadar akan resiko penyelaman yang cuma bermodalkan mask dan udara dari mesin kompressor yang sudah pasti tidak sama dengan oksigen yang memang layak konsumsi. Mereka sekarang banyak mempekerjakan orang-orang dari Nusa Tenggara, Bima untuk pekerjaan ini, yang juga masih kurang kesadaran akan keselamatan saat menyelam. Sudah banyak kejadian beberapa orang kehilangan nyawa karena hal ini.

Setelah makan malam di pulau Barrang Lompo, jam 12 malam kami siap berangkat ke Takabakang. Dari pulau Barrang Lompo biasanya dapat ditempuh dengan 4 jam, namun kali ini kami melewatkan 6 jam di kapal dengan kondisi ombak yang kurang bersahabat. Beberapa teman-teman malah harus mengeluarkan isi lambung karena buaian kencang yang tiada hentinya.

Awalnya saya berpikir Takabakkang itu sebuah pulau, namun saya keliru. “Sudah sampai”, saya terbangun dari buaian dan menatap sekeliling. Melepaskan pandangan ke sekeliling yang terlihat cuma laut. Takabakang itu ternyata spot yang agak dangkal di tengah lautan lepas. Tempat Novita Sari menurunkan jangkar itu berkedalaman sekitar 4 meter dari permukaan laut.

Selama 6 jam dengan guncangan yang hebat di laut itu berasa seperti di dunia lain. Satu-satunya cara untuk meredakan guncangan cuma dengan berada di air, begitu pemikiran kami. Namun dengan arus yang deras membuat kami tidak dapat berada pada posisi tenang. Bahkan untuk snorkling pun kami harus berpegangan dengan tali kapal. Ini sangat menguras tenaga apalagi bagi kami yang kurang bisa tidur dengan nyaman.

Harusnya terbayarkan, begitu pikiran saya saat menceburkan diri ke laut, namun apa yang nampak di depan mata? Hamparan karang yang rusak, hancur dan keputihan. Tak ada anemon laut warna warni, ikan laut pun hanya sedikit, miris!
Perjuangan ini tak sebanding, seperti biasa sebagai manusia biasa pastilah mencari penyebabnya. Who is to blame?
Nelayan? Mereka seharusnya sudah paham.

photo by itho

Penggunaan bom ikan, bius ikan dan pukat harimau telah merusak “rumah” ikan-ikan tangkapan mereka. Jika rumah rusak bagaimana ikan-ikan itu akan kembali lagi berkembang biak? Tetapi  saya juga paham para nelayan butuh makan. Lahan laut yang walaupun luas tetap saja tidak cukup karena populasi manusia yang bertambah dengan pesatnya. Persaingan siapa cepat dia dapat dan apa pun yang bisa jadi uang terkesan menjarah. Ah semuanya jadi rumit, yang pasti saya tak bisa menikmati pemandangan bawah laut di Takabakang ini.

Akhirnya saya terpikir, sepertinya akibat kerusakan yang dilakukan oleh manusia ini,  alam pun membalasnya. Abrasi pulau akibat gelombang yang tadinya bisa terlindung oleh karangpun tak dapat dihindari. Manusia yang seharusnya berteman dengan alam memilih posisi menjadi musuh tanpa disadari.

Dengan setumpuk kekecewaan, kami akhirnya kembali ke atas kapal. Masih dengan buaian yang memabukkan. “Nanti kita snorkling di pulau Kapoposan saja”, kata om Bieck Mulia, sekjen Possi Sulsel menghibur kami.  Sekitar pukul 10 kami bertolak ke pulau Kapoposang, tiba sekitar jam 3 siang menjadikan kita tidak menginjak daratan selama hampir sehari semalam. Begitu kami merapat di sekitar pulau teman-teman sudah tidak sabar untuk mencari posisi yang menetap, perahu karet dari marinir pun dengan sekejap penuh oleh peserta, saya memilih untuk bersabar dan menunggu giliran berikutnya. Tetapi rupanya itu pula yang membuka kesempatan saya dan daeng Ipul untuk bisa fun-diving. Dengan dibimbing oleh Pak Muchsin, Wakil ketua Possi yang bersertifikasi B1 kami diberikan briefing dan menjadi buddy saya selama menyelam. Alhamdulillah masih bisa melihat keindahan spot diving Aquarium yang merupakan palung laut di kedalaman 10 meter. Amazing, terbayarkan sudah rasa letih sehari sebelumnya.

Saya merasa sangat beruntung masih bisa menikmati alam bawah laut yang terjaga. Rupanya memang kita tidak bisa berputus harapan, penduduk di pulau ini masih ada yang peduli akan ekosistem laut. Terpampang banyak papan pemberitahuan tentang pentingnya biota laut khususnya yang sudah langka. Kima (kerang raksasa), ikan napoleon, penyu sisik adalah menjadi hewan laut yang dilindungi. Bahkan di pulau ini terdapat pengembiakan penyu sisik yang terbilang sudah mulai jarang ditemukan.

Momen yang mengharukan dari kegiatan ini adalah ketika melepas tukik, bayi penyu sisik ke lautan lepas. Berasa sekali harapan yang kita titipkan pada seekor mahluk yang tak berdaya. Harapan hidup penyeimbang ekosistem membawa harapan dari hati, maafkan kami yang telah merusak

photo by daenggassing.com

Yah diantara keprihatinan tentang kerusakan alam bawah laut ini, masih ada setitik harapan semoga semakin banyak orang yang peduli, dan semakin banyak orang yang sadar bahwa iming-iming kekayaan laut milik negara ini sebenarnya hanya akan tinggal bayang-bayang saja, semuanya hancur tanpa disadari dan mungkin bukan saatnya mencari kesalahan tetapi bersama-sama berpikir dan bertindak, mencari solusi untuk kepentingan bersama. Kepentingan manusia dan alam.

Dalam hati saya berharap anak cucu saya bisa menikmati apa yang saya nikmati saat ini atau bahkan lebih baik dari yang sekarang. Semoga…

 

20 thoughts on “Menitip Setitik Harapan di antara Keprihatinan, Press Tour and Marine Excursion Spermonde (1)

    1. masing-masing punya tanggung jawab, saya pun tak mengerti karena bukan bidang saya, cukup dengan tidak ikutan merusak kakak 😀

    1. masing-masing punya tanggung jawab, saya pun tak mengerti karena bukan bidang saya, cukup dengan tidak ikutan merusak kakak 😀

  1. keren tulisannya mam 🙂
    tapi kritikan saya sebagai berikut :

    1. ada beberapa kesalahan penulisan, entah tanda baca atau struktur kata. coba cek sekali lagi dari atas.

    2. alur ceritanya terlalu panjang dan agak melebar. memang pesan inti yg mau dibawa adalah tentang kerusakan biota laut dan itu sudah ada dari awal, tapi sedikit bercampur dengan pesan lain. saran saya, dipecah saja dalam beberapa tulisan biar pesannya bisa lebih fokus.

    menulis feature memang beratnya di situ, kadang tanpa sadar kita sudah ke mana-mana dan lupa pada pesan awal yg kita mau bawa.

    but, overall saya menikmati tulisanta’
    saya baca dari awal sampai titik terakhir..it was fun kecuali kesalahan kecil yg mengganggu itu..

    good luck and keep on bloggin’ in a free world!!
    dan oh ya, banyak sekali ya foto2 yg diambil dari daenggassing.com, kayaknya sang pemilik blog itu pintar motret di?
    #eaaaa

    =))

    1. terimakasih daeng, suka sekali kalau kita berkunjung selalu ada kritikan
      memang sudah pasti banyak kelemahan, mohon bimbingannya yah pak guru..

      tentang foto..
      tunggu tanggal mainnya #menujuambas :p

  2. keren tulisannya mam 🙂
    tapi kritikan saya sebagai berikut :

    1. ada beberapa kesalahan penulisan, entah tanda baca atau struktur kata. coba cek sekali lagi dari atas.

    2. alur ceritanya terlalu panjang dan agak melebar. memang pesan inti yg mau dibawa adalah tentang kerusakan biota laut dan itu sudah ada dari awal, tapi sedikit bercampur dengan pesan lain. saran saya, dipecah saja dalam beberapa tulisan biar pesannya bisa lebih fokus.

    menulis feature memang beratnya di situ, kadang tanpa sadar kita sudah ke mana-mana dan lupa pada pesan awal yg kita mau bawa.

    but, overall saya menikmati tulisanta’
    saya baca dari awal sampai titik terakhir..it was fun kecuali kesalahan kecil yg mengganggu itu..

    good luck and keep on bloggin’ in a free world!!
    dan oh ya, banyak sekali ya foto2 yg diambil dari daenggassing.com, kayaknya sang pemilik blog itu pintar motret di?
    #eaaaa

    =))

    1. terimakasih daeng, suka sekali kalau kita berkunjung selalu ada kritikan
      memang sudah pasti banyak kelemahan, mohon bimbingannya yah pak guru..

      tentang foto..
      tunggu tanggal mainnya #menujuambas :p

  3. terkait pelestarian seputar laut, saya justru cenderung penasaran dengan penanaman mangrove,
    maunya sih ikut terlibat langsung pas penanamannya,
    semoga panjang umur dan Insya Allah bisa ikut 🙂
    btw, selamat mamie atas jalan2nya…
    keren liputannya,
    mari selamatkan bahari kita #apaseh :p

    1. iyah, benar sekali.. kadang dengan melihat langsung baru kita percaya
      harusnya semua ikut berperan dalam perlestarian alam, apa pun usahanya. 🙂

  4. terkait pelestarian seputar laut, saya justru cenderung penasaran dengan penanaman mangrove,
    maunya sih ikut terlibat langsung pas penanamannya,
    semoga panjang umur dan Insya Allah bisa ikut 🙂
    btw, selamat mamie atas jalan2nya…
    keren liputannya,
    mari selamatkan bahari kita #apaseh :p

    1. iyah, benar sekali.. kadang dengan melihat langsung baru kita percaya
      harusnya semua ikut berperan dalam perlestarian alam, apa pun usahanya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *