Renungan · Sehari hari

Memelihara Impian

Pernah gak nonton film dan tiba-tiba membuat kita seperti melihat dunia ini dengan berbeda? Padahal dunia dan benda-benda di sekitarnya tetap sama. Saya baru saja merasakan itu, melihat bahwa hidup ini sepertinya harus punya pemicu untuk menjalaninya dengan seru dan semangat

Revolutionary Road, ini film yang tadi pagi saya tonton. Sambil melakukan kegiatan rutin persiapan ke kantor. Sejak beberapa hari di Jakarta saya memang tidak ngekost lagi, tapi malah nginap di tempat yang penuh fasilitas, rumah boss ^^

Di kamar seluas 4×4 ini saya mendapat inspirasi hanya melalui layar kaca dan saluran HBO. Sebelum inspirasi ini melayang entah kemana, saya menuliskannya

Cerita tentang kehidupan suami istri dengan setting tahun 70an. Kisah asmara antara Jack dan Rose dari film Titanic masih membekas. Leonardo Dicaprio memang pandai memainkan perannya begitupun Kate Winslet. Mereka berdua digambarkan hidup berdua sebagai sepasang suami istri dengan dua anak. Kehidupan yang umum yang dialami oleh banyak keluarga. Masing masing terperangkap dalam tugas dan tanggung jawab sebagai ayah dan ibu. Saya merasa adegan ini sudah merasuki saya. Keseharian kita yang atas dasar tugas dan tanggung jawab memang sama sama kita jalani. Bahkan jika kita tidak menyukainya pun tetap kita jalani.

Konflik di cerita ini dimulai ketika kebosanan akibat rutinitas sudah melanda keduanya. Sang suami mulai  bermain api, menanggapi godaan rekan kerja yang setidaknya menimbulkan percikan gairah yang hilang akibat rutinitas. Undangan untuk menghabiskan waktu setelah makan siang di sebuah hotel disambutnya. Tepat di saat sang istri menyadari, bahwa mereka memang sedang bosan-bosannya.

Seperti mendapat inspirasi, sang Istri mengingat kembali impian suaminya saat sebelum menikah. Paris, adalah tempat dimana keinginan mendapatkan tempatnya. Itulah yang membuat sang Istri mengajukan ide untuk hijrah ke Paris bersama sama. Ide ini diutarakan saat suaminya pulang dari “bekerja”.

[Dari film ini saya menyukai scene dan pecahan moment yang dibuat oleh sutradaranya. Tidak vulgar hanya berupa gambar. Diam tetapi penuh makna.]

Suaminya menyambut ide ke Paris dengan gembira dan antusias. Pekerjaan yang sebelumnya membosankan dan kaku menjadikan dia lebih santai dan secara tidak sengaja menimbulkan kreatifitas tak disangka-sangka. Pimpinannya menyukai hasil pekerjaannya dan dia mendapat promosi jabatan. Padahal di saat dia bekerja dengan ‘sungguh-sungguh’, hanya teguran yang datang bertubi-tubi akibat hasil pekerjaan yang tidak memuaskan.

Ini intinya, saya tiba-tiba mendapat pencerahan. Merasakan betapa pentingnya passion dalam kehidupan kita. Pekerjaan yang biasanya membosankan karena keseriusan dan target yang ditentukan justru menghilangkan semangat dan membuat kita kreatif. Semangat ini yang seharusnya bisa saya pelihara setiap harinya. Semangat ini memang kadang hilang seiring fokus kita yang berubah, tidak lagi menikmati setiap kegiatan yang ada.

Kadang saya berpikir kalau Tuhan sayang kepada umat-nya setidaknya segala kebutuhan kita dipenuhi olehNya. Tetapi rupanya jika itu terjadi apakah masih ada semangat kita tentang keinginan dan cita-cita? Sepertinya kita hanya perlu menyadari bahwa tugas kita adalah memelihara impian, berusaha meraihnya dan menikmati proses pencapaiannya.

Cerita berlanjut menjadi konflik yang tak terkendali, dan berakhir tragis dimana sang Istri menggugurkan kandungan yang tiba-tiba menjadi penghalang menjadi penghalang mereka ke Paris. Usaha ini pun mengakibatkan dia kehilangan nyawa. Seperti ada peringatan dari cerita ini bahwa impian pun dapat membahayakan jika kita hanya mengejar tanpa mempertimbangkan kenyataan yang sudah ada. Kenyataan yang tidak bisa kita ubah atau kita mulai ulang dari awal sesuai keinginan kita. Masing-masing kita sudah ‘terperangkap’ tinggal bagaimana memikirkan cara lolos yang menyenangkan dan bisa dinikmati.

Ah keliru saya mengatakan memelihara mimpi, yang saya maksud adalah memelihara “semangat” dari impian kita, karena itu adalah modal untuk menjalani keseharian kita yang kadang membosankan. Revolutionary Road membuat saya sadar bahwa setiap hari adalah waktu untuk merasakan passion, menikmati prosesnya tanpa harus meninggalkan sadar, waras dan wajar.

10 thoughts on “Memelihara Impian

    1. Biasa saja sayang, cuma sayang kalau gak ditulis nih isi kepala nanti hilang lagi. Biar jadi pengingat kita semua :* terima kasih sudah berkunjung

  1. Terima kasih tulisannya kak Mamie. Hihihi, gpp kupanggil seperti ini? Saat ini sy juga sedang memperjuangkan mimpi tapi rasa2nya capek sekali dan mau dilepas saja. Jiahhh, malah curhat ka

    1. Semangatnya yang perlu ndy, jadi kalau ada yang membuat kita jadi gak semangat segera sadari dan abaikan. hihi.. saling mengingatkan nah :*

  2. Saya juga nonton film ini di tv cable, 2-3x malah . Film drama yang dikemas secara berbeda, agak membosankan tetapi endingnya nggak ketebak.
    Cerita yang dipaparkan Mamie di atas benar-benar menggambarkan cerita yang ingin disampaikan oleh sang sutradara.
    Apalah artinya hidup tanpa impian? Sesempurna apapun hidul yang telah kita miliki, tetapi hati kita tetap hampa. Persis seperti tokoh yang diperankan si kate winslate di film ini.
    Nice sharing Mamie .

    1. Oh ya? saya penasaran malah dengan konflik yang ada. Sederhana dan nyata hihi

      yang bagusnya sih saya bisa dapat “pencerahan” saat menonton ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *