0

Masih amankah Indonesia?

Tak terduga bertemu seorang turis yang tidak nampak seperti turis. Berwajah Asia, berkulit putih mirip saudara-saudara kita di Sulawesi Utara.

David Pangan, dia baru tau bahwa nama keluarganya punya arti penting dalam hidup bangsa Indonesia. Melakukan perjalanan singkat ke Indonesia dengan tujuan Jogjakarta saat akhir Minggu. Mungkin merupakan salah satu perjalanan yang berkesan yang tak bisa dilupakan.

“How much is it?” Kalimat yang membuat saya menoleh ke arahnya. Apa orang ini lagi show off yah? Sama pedagang angkringan kopi joss di Jogja ini. Kenapa harus berbahasa Inggris. Tapi itulah awal yang membuka komunikasi saya dengan dia. Tak bisa berbahasa Indonesia, dia nekat jalan-jalan seorang diri ke Jogja tujuannya adalah Candi Prambanan dan Candi Borobudur.

Saya sudah deal Rp. 150.000 dengan tukang ojek, tetapi dua lembar uang seratus ribuan tidak ada kembaliannya lagi. Saya membayar Rp.200.000 untuk bus dari Jakarta ke Jogja, katanya eksekutif, tapi saya harus turun di Solo dan naik bus ekonomi.
Sekarang saya harus cari makan yang murah, kartu atm saya tertelan di mesin dekat stasiun.
Apes sekali!

Saya sempat kuatir karena beberapa kali harus jalan sendiri di daerah yang baru. Tetapi saya percaya jika niat kita baik, insya Allah kita juga akan dijaga.
Saya tidak mengatakan David mungkin punya niat tidak baik, tetapi satu kekurangannya dia tak bisa berkomunikasi dengan baik.

“Pak, saya ingin makan pecel yang enak di Madiun ini, dan saya mau langsung ke stasiun”, Mbah Jarto yang nomornya sekarang ada di hape saya dengan title, pak Ojek di Madiun, mengantarkan ke tempat makan yang asik, menemani saya makan pecel dan mengantarkan sampai di stasiun Madiun.

“Teman saya dari Thailand jadi punya pengalaman berkesan ketika ke Makassar, dia sendiri naik becak dan keliling Makassar hanya dengan menunjukkan gambar dan uang,” kata pak yos, rekan kerja di kantor.
“Dia bahkan minta tukang becaknya memotret dengan menggunakan gadgetnya”
Pengalamannya akan beda jika saya menjemput dan menemani dia. Dia tidak akan mendapatkan pengalaman yang unik.

Mungkin pengalaman tidak menyenangkan yang kadang menjadikan kenangan berkesan dalam ini yang melekat pada David. Ketenangan dia menceritakan “musibah”nya. Tetapi akhirnya saya cuma bisa berucap “Ohh…” Ketika dia menceritakan bahwa dia sudah pernah ke Afrika, lebih ekstrim.

Seperti kata Agustinus Wibowo, perjalanan yang berkesan didasari oleh ketakutan (kekhawatiran). Saya setuju. Semoga Indonesia masih merupakan tempat yang ramah dan aman bagi siapapun yang mengunjunginya. Apapun kekhawatirannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *