4

Mari Berkata yang Baik Saja

Saya bilang kamu bodoh, kamu bilang saya bodoh! Ya akan begitu seterusnya dimana kita menyikapi segala perbedaan dengan tidak bijak.

Bukankah wajah kita tidak ada yang persis sama? Pikiran kita apalagi. Bagaimana menyamakan pendapat sementara proses pemahaman masing-masing kita berbeda. Untuk satu hal, tergantung seberapa banyak informasi yang kita kumpulkan sepanjang hidup kita dan mempengaruhi pemahaman kita.

Persoalan agama, tidak perlu jauh melihat fenomena yang terjadi di antara masyarakat Indonesia saat ini. Saya adalah gambaran minoritas muslim di keluarga, tetapi mayoritas muslim di negara. Dengan keadaan seperti itu saya malah bisa belajar banyak dalam bersikap. Termasuk keluarga saya terhadap saya.

Saya tidak mungkin bersikap ekstrim seperti teman-teman di Facebook yang katanya sedih melihat seagamanya tapi tidak menunjukkan sikapnya terhadap penistaan agama.

Saya pernah menjadi salah satu orang yang tidak suka dengan Islam bahkan tidak suka dengan orang yang beragama Islam. Itu karena saat itu saya belum paham, saya melihat Islam dari orang-orang yang kasar.

Di sekeliling saya sewaktu kecil adalah orang-orang yang menyatakan diri Islam, tapi setiap saat bahasanya penuh kebencian akan ras dan agama yang saya miliki. Dalam hati saya memeranginya. Saya protektif terhadap diri saya sendiri. Setiap ada yang menghantar kepada pemahaman Islam langsung saya counter; agama Islam itu tidak mengajarkan kebaikan.

Tetapi jalan hidup saya berubah, dan ini bukan kehendak saya. Saya bertemu dengan seorang yang benar membuat saya berani membuka hal-hal tentang Islam. Beliau (alm) tidak pernah berkata kasar, sabar dan dengan istiqomah menjalankan kewajiban terhadap yang diyakininya. Tidak mengusik orang lain walaupun berbeda.

Saya tertarik mempelajari Islam karena saya melihat kedamaian yang dimiliki beliau, bukan Islam yang kasar dan berkoar-koar menggunakan nama Sang Maha Penyayang. Perlahan-lahan Alhamdulillah saya menemukannya, dan apa yang dipikirkan oleh keluarga saya, mungkin saja saya dikatakan bodoh. Pada saat saya dengan pemahaman sebelumnya yang tidak melihat keindahan dan kedamaian Islam pasti saya akan berkata yang sama.  Berpindah keyakinan bukan hal yang mudah bagi yang masih terikat dengan komunitas, seperti keluarga, kerabat dan masyarakat.

Ada yang bilang saya memeluk Islam karena menikah, tapi itu hak mereka menilai, urusan agama adalah urusan saya dan Sang Pencipta. Jika itu menenangkan bagi saya, akan saya pilih.  Alhamdulillah walaupun sebagian dari keluarga sulit menerima, tetapi lama kelamaan mereka bisa memahami saya. Mungkin juga karena saya tidak tiba-tiba merasa paling benar (dan kasar). Justru saya melakukan banyak pelayanan kepada keluarga saya. Saya tidak mau mereka melihat saya berbeda, perubahan yang saya harapkan bisa nampak adalah perubahan yang baik sehingga siapa pun dapat melihat kebaikan pada ajaran agama yang saya anut sekarang.

Bersahut-sahutan menyatakan pendapat kita adalah yang benar sepertinya tidak akan banyak gunanya. Tidak akan mengubah orang yang berpendapat berbeda, karena semua orang memilih yang ingin didengar. Yang tertinggal malah hati kita semakin keras dan kasar, tanpa kita sadari. Pemakluman atau maaf adalah cara untuk membuat hati kita lembut. Menerima segala perbedaan yang terjadi dalam diam dan doa akan lebih bermanfaat, itu menurut saya.

Dari aspek interaksi, jika memang saya adalah umat Islam yang yakin adalah jalan kebenaran, saya akan berdoa untuk orang lain untuk mendapatkan hidayah yang sama, yaitu dengan menyatakan dengan sikap bahwa Islam itu agama yang damai dan menenangkan. Saya tidak memilih berbicara banyak dan menyalahkan orang terhadap satu ayat pun karena saya tidak paham. Yang saya paham dan rasakan adalah kedamaian dan yakin bahwa Allah selalu ada dalam setiap detik di kehidupan saya, itu saja sudah cukup untuk saya saat ini.

Siapa pun yang bodoh, semuanya adalah proses. Saya pun masih bodoh, oleh karena itu benturan-benturan ini mungkin akan membuat bentuk kita semakin sempurna atau bisa juga hancur berkeping-keping. Semoga jalan apapun yang dipilih adalah keselamatan bagi semua orang. Jika saya yakin Allah Maha Pengasih, mengapa saya tidak bisa menyayangi ciptaanNya, walaupun kata orang-orang berbeda.

Semoga kita semua dikaruniakan kelembutan hati, mari berkata yang baik-baik saja semoga jadi hidayah untuk orang lain, aaminn

 

4 Comments

  1. Mami ly tulisannya adem.. terimakasih sudah share ini.., islam itu damai.. tenang dan menyejukkan.. semoga smua bisa diatasi dengan ketenangan ya mam tanpa mengurasi kecintaan kita terhadap kibar Tauhid dalam dada… aamiin ! Barakallah mami ly

    • Barakallah Kak Qiah,
      Selamanya belajar sampai saat tutup buku
      Semoga semua kita istiqomah dan tetap diberi petunjuk.. aaminn..

      Terima kasih sudah jalan-jalan di blog saya ya Kakak cantik <3

    • Aminn… semoga bermanfaat
      Iya ya sudah lama tidak ketemu dan ngobrol lama

      Insha Allah dipertemukan segera. Jaga kesehatan ya sayang
      Peluk dan cium dari mamah kota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *