0

Tersandung Nepotisme

Suka duka menjalankan kegiatan di daerah sangatlah banyak. Sukanya karena kita-kita nih ya jadi terkenal. Apalagi kalau perusahaannya suka digembar-gemborkan sama pejabat-pejabat. Otomatis kita juga jadi the most wanted person untuk ditanyain, “bisa masukkan lamaran?”

Dimana-mana kita berada ada saja yang pengen kenal, berasa selebritis saja tapi gak sampai minta foto bareng sih.

Nah itu sukanya, jadi banyak kenalan walaupun punya intensi tertentu. Dengan intensi seperti ini pastinya hubungan ataupun sikap yang ditunjukkan seiring dengan espektasi yang diharapkan dari kita. Ya di awal bisa baik banget, tapi jika kita tidak memenuhi keinginan atau harapannya ya gitu deh.

Yang gak enaknya lagi, namanya di daerah masih tinggi istilah KKN, eh maksudnya sih huruf N nya saja, Nepotisme. Seorang yang memiliki jabatan, apa saja, dari executive ke legislatif. dari camat ke kepala dusun, semuanya bisa saja menjual nama. Referensi dan mintanya harus lulus! Aneh kan.

Lebih aneh lagi saat ada test kompetensi untuk bisa lulus belajar yang kami kebetulan sebagai fasilitasi. Selama proses ada dua anak-anak yang membawa telpon dan menyerahkan ke saya, “Ada yang mau bicara, bu”.

Apa mereka tidak mengerti? bahwa dengan cara seperti itu akan melemahkan daya saing si anak tersebut.  Jangan mikir bahwa kerabat pejabat atau titipan anggota DPRD itu bisa bersaing dengan fair. Mereka diantarnya saja pakai dorongan spesial dari pemangku jabatan yang hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak berpikir untuk masyarakan secara keseluruhan.

Untungnya saya tidak punya ketakutan untuk bilang tidak. Katakan Tidak! pada nepotisme!

“Bu Lily, bisa nda anak saya dimasukkan di gelombang pertama saja untuk ujiannya, soalnya dia ada tugas mau ke Makassar untuk antar barang.” ~ heh! yang benar saja!

Biar rontok semua rambut saya pasti gak dapat kesimpulan, bagaimana cara berpikir seperti ini.

Penyelanggaraan itu dilakukan oleh pihak lain, saya pun tak berhak mengatur walaupun saya ikut dalam proses.  Mengatur pun saya dapat mengacaukan daftar peserta lain, yang berarti mengorbankan orang lain hanya karena kepentingan pribadi. Tidak ada yang benar-benar menghargai sistem.

Contoh saja, sebenarnya ada yang memang kita coba fasilitasi menjadi salah satu yang kita sudah bina berharap bisa menjadi pemimpin unit, itu berdasarkan referensi atau toleransi terhadap “keluarga pejabat” tetapi alamak, manjanya minta ampun. Sudah manja protesnya bejibun. Susah diajak berpikir bersama.

Jadi ya, untuk nepotisme dalam pekerjaan mending dipikir berulang kali. Bayangkan, sudah mengambil kesempatan orang lain, berulah pula memusingkan management.

Kita pun jika beruntung mendapatkan kesempatan untuk bisa bekerja, seharusnya malah dua kali lebih bekerja keras, karena malunya bisa dua kali jika kita tidak bisa apa-apa, dan malunya bisa  jadi tiga kali jika kita buat ulah.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *