0

Kejamnya (hujan) Ibukota

Malam ini sudah kali kedua saya kesulitan pulang ke kosan. Janjian dengan teman di Plasa Semanggi batal karena hujan. Saya sudah terlanjur di Mall yang katanya tempat yang paling strategis untuk ketemuan.

Semuanya karena hujan. Kok bisa?
Iyah, sekarang Jakarta memang jadi lebih kejam jika hujan. Siapapun takluk. Sebentar saja hujan turun, air sudah tergenang dimana-mana. Akses jadi terbatas. Kita bisa saja tiba-tiba terkepung banjir tanpa tahu cara untuk keluar dari daerah itu. Taksi pun memilih-milih penumpang.

Tunggu setengah jam lagi bu biar airnya surut. Kata supir taksi menolak ketika saya meminta diantar ke Mall Ambassador. Iya kalau gak hujan lagi, pikirku.

Jam 10 malam adalah waktu para pekerja pulang. Ah temanku banyak, pikirku. Jadilah saya mengikuti mereka berjalan ketika hujan agak reda. Tiba di persimpangan saya ragu. Sepertinya saya harus berhenti mengikuti mereka. Akhirnya saya berjalan sendiri tepat ketika hujan mengguyur lagi dengan derasnya. Sendal cantik yang diberikan mama kemarin sudah basah tak keruan. Air sudah tiba-tiba setinggi mata kaki. Saya tetap terus berjalan sampai tiba di perempatan jalan besar. “Bang, jalan apa ini?”, tanyaku sedikit berteriak karena suara hujan juga tak mau mengalah. “Ibu mau kemana? Salah bu harusnya terus tadi”. Wah! Selalu saja begitu. Disorientasi, keliru menentukan arah.

Naik ojek saja bu. Tawaran bapak itu. Iyah pak.. Berapa ke Pedurenan?
Dua puluh ribu
Ok pak, jawabku tanpa menawar lagi

Saya cuma membayangkan, beberapa malam yang lalu saya akan rela membayar lebih untuk bisa pulang ke kosan. Jam 1 pagi dan tidak ada cara untuk bisa pulang. Saya tidak mau itu terjadi lagi

Payungnya agak dikedepankan bu, biar gak terbang. Naik ojek dengan memakai payung memang butuh teknik, salah sedikit payung rusak atau kitanya yang basah. Kemiringannya harus pas. Sok ah.. Baru juga sekali ini naik ojek pakai payung 😀

Ibu kota memang kejam, apalagi di saat hujan. Dalam kekejaman itu saya melihat sesama kita masih ada yang harus berjuang lebih dari saya. Pulang kerja saat malam, bahkan bekerja di saat malam. Saya sudah cukup bersyukur ketika menyentuh pintu kosan, tak kena hujan lagi tapi mereka bagaimana?

Walaupun kadang saya merasa hujan ini lebih kejam terhadap saya, karena begitu saya sudah siap tidur, dia pun berhenti.
Sepertinya dia cuma ingin bermain-main dengan saya di luar sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *