Politik · Sehari hari · Uneg uneg

Kebebasan yang Kebablasan

Senang sih rasanya orang bisa menyuarakan isi hati dan pikirannya dengan bebas, seperti terbang di angkasa luas. Sayangnya di angkasa juga banyak burung lain yang juga merasa bebas, tabrakan deh!

Fenomena ini memang pasti sudah disadari oleh semua orang, saya mungkin termasuk salah satu yang ikut nimbrung di dalamnya.  Yaitu bebas menyatakan opini dan opini saya bisa membuat orang lain suka dan tidak suka. Ini memang resiko keterbukaan. Jadinya seperti chaos, satu pendapat bisa ditimpali sampai ribuan orang (kalau ngetop), itu baru tanggapan  loh, belum lagi kalau salah satu diantara seribu itu juga menyatakan pikirannya, ditanggapi lagi sama seribu orang, butterfly effect dong. Alamak! kebayang bisingnya. Untung saja apa yang beredar di dunia maya gak berbunyi, jika iya paling kita hanya bisa tutup telinga karena tidak berhenti berdengung.

Ini pun kita sudah harus belajar tutup mata, atau pun paling tidak menahan diri agar tidak terpancing menimpali dari orang yang kita tidak kenal karena tidak tahu mereka bisa menerima opini berbeda secara dewasa atau tidak.

Yang paling penting juga kita sudah harus berpikir menuliskan ide di dunia maya, seakan semua mata tertuju kepada kita. Yang masalah pemusatan perhatian ini juga digunakan untuk orang-orang menyebar hoax yang tahu apa yang diinginkan oleh para pembacanya. Dan kita yang lemah ini dimanfaatkan untuk menyebarkan berita-berita yang belum tentu benar tetapi kita senang mendengarnya.

Kalau saya sih yakin, pada dasarnya semuanya kita sama tapi banyak burung-burung yang asal terbang ikut pimpinan rombongan. Ada juga burung yang berpikir sendiri dan mengikuti kata hatinya. Tapi saya yakin semuanya pasti tidak ingin terjadi tabrakan kecuali si penggiat hoax. Dia bermain-main di antara kita dan seperti cahaya kamuflase yang membuat orang bisa tergoda mengikutinya. Semakin banyak yang celaka, semakin bahagialah hatinya.

Efeknya banyak, adalah seorang yang menulis pendapat kemudian jadi ngetop dan kesalahan sekecil apapun menjadi besar. Seorang remaja, Afi saya kagumi karena keberaniannya mengutarakan pendapat, berhadapan dengan panggung yang penuh caci maki. Namun dia pun kena apes, dituduh plagiat yang dimana dia mengambil tulisan orang lain. Yang instan memang mengerikan!

Kemudian saya bertanya, apa penyebar hoax itu bukan plagiat? Akan bagus jika semua yang mau menyebarkan berita mengecek sumber berita itu. Kebiasaan saya sekarang memang sudah otomatis melihat tautan berita yang disebar Lah, yang nyebar hoax itu bukan plagiat ya? Makanya dari dulu saya gak pernah lihat orang kalau ngomong, tapi berusaha menerima dulu semua informasi kemudian mencerna sendiri. Kalau lihat siapa yang ngomong pasti begini nih jadinya.

Tapi mungkin ini yang membuat kita jadi belajar (kalau mau) setiap ada yang tertulis gak usah deh puji-puji orangnya (karena sesungguhnya yang patut dipuji cuma Allah) tapi pelajari makna dari apa yang disampaikan. Sudahlah jangan lah kita mudah menilai orang baik atau pun buruk (ini juga bukan urusan kita, kecuali kalau sudah merasa sama kedudukan dengan Tuhan)

Saya sih sederhana, ini masalah suka atau tidak suka dan bukan mengenaik baik atau tidak baik. Sebagai manusia wajar kalau kita suka dan orang lain tidak suka demikian sebaliknya. Dan sederhana saja perlakuannya suka yang di-like  tidak suka ya tinggalkan. Gampang bukan?

Ada juga Ahmad Rifai yang digelandang oleh Krimsus Siber Mabes Polri dikarenakan penyebaran info mengenai bom Kampung Melayu yang dianalisa sendiri sebagai bom rekayasa. Tulisan yang menurut pengacaranya adalah “kritis” memang harus hati-hati. Tanpa bukti-bukti yang pasti apalagi masih didasari dugaan dan kebencian atas kelompok lain mengakibatkan dia dengan suka rela menandatangani surat permintaan maaf yang dibubuhi materai Rp. 6.000,- , entahlah prosesnya berlanjut atau tidak karena efek jera memang patut diberlakukan agar yang lain tidak mengikuti kecerobohannya hanya karena merasa bebas berbicara.

Surat permintaan maaf juga ada yang dilakukan secara terpaksa, dimana sekelompok orang yang merasa tersinggung dan merasa dihina pimpinannya dan agamanya oleh seorang anak remaja di Cipinang. Tersebar video yang memperlihatkan bagaimana anak tersebut diintimidasi untuk meminta maaf. Maaf itu harus dari hati kenapa pula harus dipaksakan. Mungkin maksudnya menimbulkan efek jera juga bagi yang lain agar tidak berkata buruk terhadap pemimpin mereka.

Semuanya menjadi pelajaran, bahwa berbicara bebas itu harus dipikir dulu, harus tahu rambu-rambu. Jangan terlalu terbawa emosi, soalnya emosi yang dipancarkan bisa menular ke orang lain yang membacanya.

Sekarang saya mikir apa kebebasan itu perlu? Ingat dulu waktu jaman orde baru katanya baru sedikit saja orang berbicara yang tidak sepaham, besoknya sudah hilang. Kan tidak perlu seperti itu lalu apa yang harus diperbuat?

Sepertinya kita harus lebih banyak fokus sama diri sendiri deh, mumpung bulan puasa. Muhasabah diri sepertinya lebih bermanfaat dibanding membiarkan nafsu untuk menyalahkan orang lain, bahkan menghujatnya. Dari dua sisi harusnya saling bisa menahan diri, bukan saja menahan lapar.

Ini pun sebagai catatan saya untuk mengingat, tidak sepatutnya kita menghina atau mengatakan orang tersebut jahat karena kita juga tidak sempurna, banyak kekurangan yang dimiliki oleh diri sendiri. Dan jika suka tidak usahlah terlalu dipuja-puji, cukup mencontohi apa hal yang dianggap baik dan bisa memberikan manfaat yang lebih ke orang lain.

Selamat menjalankan Ibadah Puasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *