12

Karaoke Sekarang, Kurang Nyali

Ini gara-gara keseringan meeting dengan investor asing yang berasal dari negeri tirai bambu. Saya mau gak mau membiasakan diri lagi dengan bahasa yang susah. Saking susahnya, dulu harus kena marah dulu baru mau ikut kursus. Sekarang mau gak mau harus belajar lagi.. otodidak!

Cara saya belajar bahasa adalah dari lagu. Sama seperti belajar bahasa Jepang dulu. Mayumi Itsuwa sampai sekarang masih menjadi idola, ditambah beberapa artis lawas. Agak aneh, karena saya tidak tertarik dengan SMAP walaupun Kimura Takuya menyanyi dengan gantengnya. Gak bisa bohong lagi deh kalau soal usia πŸ˜€

Saya tidak punya direktori lagu mandarin yang terkini. Lagu yang sering saya dengar adalah saat saya SMA, itupun karena sering ikut teman-teman yang doyan karaoke. Ingat masa lalu, pengalaman yang tak terlupakan. Kita harus bela-belain ikut orang tua Β salah seorang teman yang memang hampir tiap malam ngumpul di Bambooden II restaurant. Tempat yang menawarkan karaoke memang belum menjamur seperti saat ini. Itupun model KTV (Karaoke dengan big screen) dan yang mau menyanyi harus sabar menunggu giliran. Masing-masing dua kali kesempatan digilir di setiap meja. Menyanyi di depan orang yang tidak dikenal memang membutuhkan nyali raksasa. Atau bisa jadi harus cuek tingkat dewa.

Apalagi dulu, tingkat kepedean saya belum seperti sekarang ini. Teman kadang menggelari saya kuper. Yang dikepit cuma buku, dengan bershort-pants mondar mandir di rumah. Saya cuma bisa mengagumi teman-teman yang menyanyi. Dalam hati pengen juga bisa seperti mereka. Tapi suara saya gak bagus, atau bagus tapi karena ragu jadi gak bagus, Yah.. pokoknya gak bagus lah hasilnya. Dan terus terang saya jadi penikmat dan hanya berangan-angan ketika kembali ke rumah. Seandainya saya nyanyi itu.. nyanyi ini.. dan tiba-tiba saya sudah di depan cermin, bernyanyi sendiri ala penyanyi profesional :p

Nyali saya timbul saat saya mulai akrab dengan budaya Jepang. Rekan-rekan sekerja yang dari Jepang memang suka karaoke. Irani adalah tempat karaoke favorit. Walaupun remang-remang, lagu Jepangnya sangat lengkap. Maklum pemiliknya dari negeri Sakura yang kabarnya menikah dengan orang lokal. Perlahan-lahan takaran ke PD an saya meningkat hingga akhirnya merasa siap untuk naik panggung. Panggung lokal tapinya, skala kecil, panggung di pelataran kantor. Dengan mengenakan yukata saya sudah berasa jadi artis, tercapai cita-cita untuk bisa menyanyi bukan lagi di depan cermin tapi di depan boss-boss yang (katanya) kagum karena saya bisa menyanyikan lagu enka, lagu yang mereka sukai πŸ˜€

Sekarang, di ruang karaoke saya bisa menyanyi dengan sangat PD. Rasanya sangat beda dengan dulu. Saya harus pulang dengan penasaran dan mengatakan dalam hati, pokoknya nanti kalau karaoke lagi saya harus nyanyi. Tapi ternyata tidak berhasil juga….

Karaokean sekarang memang tidak membutuhkan nyali raksasa, bersyukur juga ada ruang-ruang kecil dimana kita bisa berteriak dan bernyanyi semaunya. Fals dikit tidak masalah yang penting hepi. Buat latihan boleh juga seperti pengalaman saya melewatkan 4 jam bernyanyi seorang diri. Saya memang pekerja keras #eh πŸ˜€

** lagi nyari lagu Mars yang dulu saya nyayikan dan pernah beredar di Jepang tapi gak hits πŸ˜€

12 Comments

    • ah @chikuwa benar, saya keliru.. maksud saya kimura takuya x_x .. thanks sudah koreksi yah ^^

    • ah @chikuwa benar, saya keliru.. maksud saya kimura takuya x_x .. thanks sudah koreksi yah ^^

  1. Hahahaha, merindukan malam-malam kerokan yang selalu membahana. Dari aneka ria playlist dengan segala kerandomannya. Dengan semua cerita yang selalu mengalir didalamnya.

  2. Hahahaha, merindukan malam-malam kerokan yang selalu membahana. Dari aneka ria playlist dengan segala kerandomannya. Dengan semua cerita yang selalu mengalir didalamnya.

  3. Wah, Irani!
    jadi ingat, dulu pernah pulang dari Irani dengan keadaan mabuk berat…hahahaha

    tahun 90an Irani itu bukannya kesannya agak2 anuh ya?

    πŸ˜€

  4. Wah, Irani!
    jadi ingat, dulu pernah pulang dari Irani dengan keadaan mabuk berat…hahahaha

    tahun 90an Irani itu bukannya kesannya agak2 anuh ya?

    πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *