0

Kaku atau Lentur!

Tidak semua orang suka kota yang penuh hiruk pikuk seperti Jakarta. Saya pun demikian awalnya. Setiap akan ke ibu kota beberapa tahun lalu hati saya terasa berat, malas rasanya. Lalu kenapa sekarang saya menyukainya? Bahkan tawaran untuk balik ke kampung halaman sudah disampaikan tetapi saya kecenderungan saya tetap ke ibu kota yang penuh cahaya ini. Mungkin adaptasi saya selama hampir 4 tahun ini berjalan mulus. Nampaknya…

Saya merasa orang yang bisa survive di Jakarta adalah orang yang sudah ditempa dengan keadaan yang memang keras. Bentukan pribadi menjadi lebih jelas. Dari matahari terbit sampai terbenamnya, tidak ada kata “santai”. Bahkan untuk jalan kaki sekali pun, harus tetap waspada dengan trotoar yang dipenuhi bikers atau penjaja kaki lima. Belum lagi yang mengendarai kendaraan umum, bahkan berefek sampai ke pemilik mobil pribadi, sebagus apapun mobil yang dimiliki.

Tapi saya suka dengan Jakarta. Anggap saja latihan membuat hati ini lebih “dingin” dan bisa menghadapi keadaan sesulit apa pun. Saya tidak ingin menjadi manja, sedikit sedikit mengeluh. Di Jakarta saya bisa jalan jauh tanpa perlu berharap ada kenalan yang coba menjemput atau mengantar. Naik busway, commuter line, angkot semuanya sendiri. Dilalui dengan beberapa jam dalam keadaan panas pun tak masalah. Saya suka seperti itu, karena begitu balik ke keadaan seperti kota Makassar, dimana orang-orangnya sudah mengeluh dengan macet dan jauh saya cuma bilang, “oh.. santai saja, gak apa apa”

Tapi saya baru saja sadar. Rasa bisa menghadapi segala keadaan ini ternyata saya bisa kategorikan menjadi dua sikap. Yang pertama adalah kaku. Seperti tulisan saya sebelumnya, Jakarta bisa membuat kita menjadi batu, tidak berperasaan dan seperti robot, bahkan tidak peduli dengan keadaan orang lain. Itu bisa tergambar pada sikap bahkan bisa menjalar sampai ke hati. Ini yang saya tidak inginkan.

Akhir-akhir ini saya merenung, saya tidak perlu demikian. Saya cuma harus membuat hati saya seperti karet yang lentur. Jika mendapat tekanan bisa mengkerut tapi dalam keadaan biasa bisa juga mengembang. Saya pernah mengamati wajah beberapa penumpang di metro mini yang panas dan padat. Ada yang benar-benar tidak peduli, keras tapi ada juga yang tetap sejuk, tersenyum. Saya ingin seperti itu.

Saya ingin senyum saya tetap mengembang menghadapi keadaan yang keras, begitu pun hati saya. Saya tidak ingin kehilangan rasa, justru saya ingin rasa tenang yang bisa saya hasilkan sendiri bisa menjalar ke orang-orang lain, melalui senyuman ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *