Kerja · Motivasi

Edensor, si Pengusik Mimpi

Edensor buah karya Andrea Hirata, adalah teman saya selama dua hari terakhir ini. Ceritanya yang segar dengan bumbu metafora yang kadang mengejutkan membuat hati ini terhibur di antara kesibukan rutinitas kegiatan kantor.

Edensor salah satu dari tetralogi Laskar Pelangi. Laskar Pelangi sendiri belum saya baca karena saya sudah pernah menonton filmnya. Setidaknya asal usul karakternya masih tergambar jelas di ingatan, sehingga tidak kehilangan link

Dulu saya pernah menjadi mahasiswi Fakultas Sastra Prancis. Selain saya takut tidak lulus di Universitas karena pilihan favorit. Saya juga sangat tertarik dengan bahasa Prancis, Elegan dan romantis. Dulu, mendapatkan beasiswa untuk bisa belajar di Prancis adalah cita-cita. La Tour Eiffel dan Le Louvre adalah ikon yang selalu membayangi ketika membaca buku-buku bahasa yang mengandalkan suara sengau ini. Ketika mendengar ada teman yang berangkat ke Prancis untuk tugas belajar, hati ini berkata, kenapa bukan saya.

Tapi itu dulu sebelum saya mulai mengenal Jepang. Jepang dengan pesonanya tersendiri berhasil memendam pikiran saya akan Prancis. Orang-orang malah bilang, itu karena saya punya teman dekat orang Jepang. Bisa jadi, tapi saya masih ingat bagaimana gagunya saya berbahasa Jepang tapi mampu juga menjalin hubungan dekat. Pakai hati mungkin ya, bahasa universal.

Selain itu Jepang memberi pesona Asia, huruf-huruf kombinasi hiragana dan kanji membuat saya serius belajarnya. apalagi bekerja dengan orang Jepang selama 13 tahun membuat saya benar-benar melupakan melupakan bahwa dulu ada negara yang ada dalam impian saya.

ede

Edensor mengingatkan saya akan mimpi ini. Andrea Hirata menggambarkan negara-negara Eropa dengan sesuka hatinya. Tetapi karena sesuka hati sesuka rasa, mungkin dengan rasa itu membuat saya tersentuh. Saya seperti mendapatkan kembali keinginan untuk bisa berkunjung ke sana. “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”. Saya sangat yakin dengan ungkapan ini. Sudah beberapa kali saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke negeri Sakura hanya karena impian. Sepertinya saya akan menuliskan nama Paris dalam harapan saya kembali.

Kuatnya Edensor mempengaruhi saya mengalahkan foto-foto teman-teman yang sudah berkunjung ke negara pusat mode tersebut. Andrea memang mampu menginspirasi pembacanya. Saya salah satunya.

Tapi memang benar, kadang keadaan dan rutinitas kita membuat kita kehilangan waktu untuk bermimpi bahkan nafas pun kadang tidak kita sadari

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *