0

Duka itu Pesan Pengabdian

Langit berpayung gelap, awan pun menitikkan kesedihan. Orang-orang yang datang berkumpul tidak percaya. Apa yang dilihatnya? sesosok jazad yang layaknya tertidur dalam damai yang diam. Ada yang datang karena penasaran, ada apa? mengapa bisa terjadi? sakit apa? kenapa begitu cepat? kenapa tak ada tanda-tanda?

Ada yang datang karena rasa bersalah, menyesal tak sempat ini dan itu, menyesal karena tersadar, bukan lagi waktunya mencurahkan kasih, bahkan mungkin menyesal karena permohonan maaf yang belum tersampaikan. Hanya Tuhan yang tahu.

Hanya Tuhan yang tahu, mengapa mentari beristirahat sejenak, mengapa suasana haru mengikat rumah ini. Rumah yang diperuntukkan untuk berkumpul dan berbagi kasih. Sesosok jazad yang adalah lelaki muda, tertidur dalam diam. Terbaring di tengah ruang yang putih, kabur dan sedih.

Leluhurnya bukan orang biasa, berdarah biru dan juga pemimpin yang dicintai rakyatnya. Dia seharusnya menempatkan dirinya pada kedudukan yang lebih dari orang biasa, memandang ke bawah, melirik dengan ekor mata pun orang akan maklum. tapi apa yang dilakukan semasa hidupnya?

Pekerjaan yang paling rendah menurut orang-orang, melayani. Dia rela menerima cemooh dari orang terdekat karena berkeras untuk menjalankan keyakinannya dalam pengabdian. Tak peduli dengan imbalan yang diperoleh, padahal lebih dari itu dengan mudah bisa diperoleh, menurut orang-orang.

Jika alam menampakkan rasa sedih, pastilah alam merasa kehilangan. Seorang yang sangat kuat yang memberi arti hidup bagi orang-orang lain, bagi siapa yang dapat membacanya.

Tidak mudah menjalankan tugas sebagai abdi, jika dia seorang ningrat. Tidak mudah mendengar cemooh jika memiliki warisan darah biru. Tidak mudah menghadapi fitnah jika dia hanya menjalankan apa yang diyakininya.

Di sekitar kita terlalu banyak orang, terlalu banyak niat, terlalu banyak tujuan dan kepentingan. Tetapi dia bertahan, tak peduli, hanya menjalankan apa yang diyakini. Pengabdian.

Tidak benar orang yang kuat adalah orang yang melawan, orang yang membalas lebih perlakuan orang lain. Orang yang mudah terusik karena omongan.

Diam, sabar dan yakin. Kekuatan yang tidak perlu menampakkan dirinya.

Jika jeruji besi pernah berada di sekelilingnya, semacam ujian yang datang dari Pencipta. Ujian bagi semua yang terlibat di dalamnya. Dia tetap tidak goyah, tetap seorang abdi yang setia.

Sejuta kata bodoh tidak mampu menggoyahkan keteguhannya sampai di akhir hayatnya. Keyakinan yang dibawanya hingga diam dalam ketenangan, sepi dan sunyi.

Otak kita seakan paling tahu, kadang bekerja menghasut, berusaha menggeser keyakinan hanya karena kata orang. Tidak mudah untuk bisa kuat dalam keteguhan, menutup telinga, mata, pikiran dan rasa. Semuanya menjadi ujung-ujung tombak yang mengusik keyakinan, menusuk-nusuk, sakit dan berdarah. Jika tidak kuat pasti akan bergeser.

Seperti samurai yang rela mati dalam pengabdian, kesetiaan yang tiada akhir. Beristirahatlah dalam tenang. Sudah cukup.

Juli 2016

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *