Uncategorized

Catatan Pribadi dari Pers Tour and Marine Excursion (II)

Tak terukur kesyukuran saya ketika terpilih untuk dapat ikut di kegiatan ini. Memang sudah beberapa bulan sebelumnya saya mendengar akan adanya marine tour yang diselenggarakan oleh dinas kebudayaan dan pariwisata propinsi Sulawesi Selatan. Bahkan mungkin daeng nuntung, salah seorang pencetus ide untuk melibatkan komunitas online di  acara ini,  sudah bosan dengan pertanyaan saya, “Kapan? “. Bukan apanya, Spermonde itu adalah kepulauan yang jauh dari tempat  tinggal saya sekarang. Butuh penyesuaian waktu dan anggaran.

Saya memang selalu merasa yakin dalam hati, setiap keinginan hanya cukup dicetuskan dalam niat, dan selebihnya berserah, jika jodoh pasti akan bertemu. Dan Alhamdulillah saya memang berjodoh..

Namun apa pun itu pasti punya sisi hitam dan putih. Pengorbanan untuk bisa ikut pun melibatkan keluasan hati dari anak-anak. Mereka dengan besar hati mengiyakan ketika saya meminta waktu yang seharusnya menjadi jatah mereka. Negosiasi pun tercipta, saya boleh ikut tetapi harus pulang ke makassar lagi minggu berikutnya.

Tidak harus nyaman untuk paham

Bergaul dengan teman-teman yang memiliki fasilitas lebih membuat saya bisa melihat betapa tergantungnya mereka terhadap kenyamanan. Bukannya tidak suka dengan hotel mewah dengan berbagai fasilitasnya, tetapi saat saya melakoni itu terasa datar saja, tidak ada yang spesial dalam melewati waktu. Saya lebih memilih perjalanan yang penuh usaha karena pasti lebih berkesan. Perjalanan ini contohnya, untuk bisa melihat yang nyata kita tidak perlu mengemasnya dengan indah. Dan saya bersyukur bisa menikmati itu. Menikmati alunan ombak yang menghempas, tidur di kapal kayu tanpa alas, melewati waktu tanpa jaringan internet. Yang terakhir disebutkan sepertinya memang keadaan yang menyiksa.

Berserah pada Alam

Sama seperti Live abroad ini, saya yakin saat menjalani keadaan yang tidak sesuai dengan harapan pastilah membuat kita mengeluh. Tetapi pelajarannya sangat mendasar. Apa yang terjadi dengan ombak yang membuat kapal menjadi seperti ayunan yang tak pernah berhenti membuat kita lemah, tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima dan berserah.

Live abroad sebenarnya perjalanan dalam diri bagaimana membuat nyaman keadaan yang tidak nyaman. Lebih dominan mengontrol inner feeling dengan menafikan keadaan sekeliling.

Bagaimana bisa dengan besar hati menyerahkan hidup yang sedang terombang-ambing sendiri di laut, membiarkan alam yang menentukan keadaan

Orang lain mungkin akan sibuk mengeluh, tetapi saya hanya menenangkan diri saja.
Apalagi ketika sehari pertama itu kami tidak menemukan apa-apa selain cerita miris tentang hancurnya ekosistem laut karena kerakusan manusia. Sama sekali tidak membuat hati ini menjadi tentram.

me and the sea (by daenggassing.com)

Menyelam untuk pertama kali

Sebelumnya saya selalu kagum dengan orang yang bisa melihat dunia bawah laut. Mereka lebih melihat banyak, sementara saya cuma bisa menikmati hasil foto di majalah-majalah diving.

Tidak seperti menikmati pemandangan di darat. Menyelam merupakan kegiatan yang beresiko nyawa. Penuh dengan detail prosedur dqn teknik hanya untuk bisa turun di kedalaman 10~30 meter di bawah laut.

Ini juga jodoh, saya akhirnya mendapat kesempatan menyelam untuk pertama kalinya. Begitu banyak aturan yang disampaikan oleh teman seperjalanan dari POSSI. Mendengar itu saja sudah terasa kecemasannya. Hidup cuma bergantung pada tabung, tidak bisa bertindak ceroboh karena beresiko kerusakan pada alat-alat vital tubuh.

Giant step dari kapal adalah momentum yang sangat mendebarkan. Menyusuri dinding palung laut di spot Aquarium, memegang bintang laut yang masih hidup dan meletakkannya kembali, sangat berkesan.

Tetapi terus terang saya tidak bisa menikmatinya secara penuh. Kekhawatiran tentang resiko menyelam selalu saja melintas di pikiran. Belum lagi kegelapan di bawah laut, sungguh membuat saya harus bernapas terengah-engah, menghabiskan banyak oksigen karena panik.
Don’t Panic
Itulah yang selalu menyeimbangkan ketakutan. Membuat diri tenang itu sangat sulit, apalagi dengan racun kekawatiran yang diproduksi oleh pikiran. Tapi sugesti kata-kata itu penting. Don’t panic.. Don’t panic..

Saat naik kembali ke perahu, saya tidak bisa menutupi euforia itu. Saya ingin lagi, dan kembali keinginan ini pun saya letakkan dalam niat. Semoga akan ada kesempatan berikut dan berikutnya lagi

Tidur di pantai

Kami seharusnya melewati dua malam perjalanan itu  di atas kapal.  Tetapi karena malam pertama dilalui dengan berat akhirnya panitia memutuskan untuk melewatkan malam di pulau Kapoposang. Beruntung ada cottage milik penduduk yang tersedia untuk ditempati. Sebenarnya karena peserta perempuan tidak terlalu banyak maka kami ditempatkan dalam satu kamar saja. Bagi saya sih tidak masalah dimana pun yang penting bisa memejamkan mata dan meluruskan badan.

Dari kami yang berlima, memang cuma saya yang perempuan, tetapi karena merasa sudah seperti saudara tidak ada rasa canggung lagi. Apalagi ketika saya memutuskan untuk ikut tidur di pantai beratapkan langit dengan pemandangan bintang-bintang. Tempat tidur yang seharusnya diletakkan di ruangan pun jadinya berpindah tempat ke pesisir pantai. Sangat terkesan dengan keadaan alam sekitar, apalagi ketika kami semua bangun sebelum matahari terbit di ufuk timur tepat dihadapan kami. Pemandangan yang sangat jarang kami dapatkan. Masing-masing sudah sibuk dengan kameranya, mencoba mengambil golden moment detik-detik matahari mulai melakukan tugasnya.

Makan ikan di pantai

Hal yang paling saya sukai adalah makan, terlepas dari lapar atau tidaknya saya adalah penikmat hasil alam yang bisa dimakan baik yang diolah walaupun tidak. Masih teringat ketika di pulau Samalona beberapa tahun lalu saya cuma menunggu lobster yang akan ditangkap dengan bermodalkan wasabi dan soyu. Memakan hasil laut di sekitar laut memang beda rasanya. Ikan nya pun segar-segar, ini kenikmatan dunia yang tak terungkapkan dengan kata-kata.

happy near the beach

+++++

rekan seperjalanan (biar gak narsis sendiri) by alwaysmamie.com

Apapun seloroh daeng Ipul, tentang nenek moyangku yang berdagang melalui laut yang bersifat SARA, saya memang cinta laut. Kecintaan yang sudah ada sejak saya masih kecil, dimana laut adalah tujuan rekreasi kami sekeluarga setiap minggunya. Dan yang paling membuat saya nyaman jika berada di laut adalah semakin dekat dengan papa. Tubuhnya yang sudah menjadi abu ditebarkan di laut, dan saya merasakan pelukannya setiap berada di dalamnya.

 

 

20 thoughts on “Catatan Pribadi dari Pers Tour and Marine Excursion (II)

  1. abis bangun tidur nggak masuk angin tuh mam? 😀 aku juga pengennn banget bisa diving.. akan selalu inget kalimat ini : setiap keinginan hanya cukup dicetuskan dalam niat, dan selebihnya berserah, jika jodoh pasti akan bertemu. semogaaaaa… 😀

    1. anginnya malah betah nih di tubuh :D, iyah mbandah.. yang penting niat dulu, biarkan mengalir saja kenyataannya 😀 #sokbijaknih

  2. abis bangun tidur nggak masuk angin tuh mam? 😀 aku juga pengennn banget bisa diving.. akan selalu inget kalimat ini : setiap keinginan hanya cukup dicetuskan dalam niat, dan selebihnya berserah, jika jodoh pasti akan bertemu. semogaaaaa… 😀

    1. anginnya malah betah nih di tubuh :D, iyah mbandah.. yang penting niat dulu, biarkan mengalir saja kenyataannya 😀 #sokbijaknih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *