9

Buku yang Perlahan-lahan Terhapus

Saya agak kurang paham dengan kesukaan teman-teman mengunjungi kota-kota besar semisal Singapura. Percaya atau tidak, begitu disebut nama negara itu sebagai ajakan untuk liburan saya langsung merasa malas. Apa yang bisa saya nikmati di sana ya? Saya pikir kota itu cuma cukup sekali saja jika berniat untuk dikunjungi, setelah itu, mending mencari tempat lain.

Saya mungkin keliru dengan cara pandang saya terhadap Singapura, tapi terus terang saya tidak melihat ada “kisah” di sana. Yang saya lihat adalah hasil karya imanjinasi orang-orang kini yang memang disepakati dengan istilah modern, metropolitan penuh gemerlap dan semuanya serba wah!.

Beda rasanya ketika mengunjungi Penang, Malaysia. Kota yang masih memelihara warisan gedung-gedung yang punya kisah di retakan dan kusamnya warna dinding yang berjejer di sisi–sisi aspal. Seperti ingin memancing kita untuk mencari tahu ada cerita apa yang sudah disaksikannya. Semua terasa penuh misteri. Tetapi tidak menjadikan kota Penang seperti tempat yang kusam dan tidak menarik. Perkembangan ekonomi seiring dengan berdirinya bangunan kokoh juga nampak, tapi tidak lantas menggerus cerita, menghapus jejak para penghuni terdahulu kota tersebut.

Sebagian daerah Georgetown di Penang bisa menjadi bukti. Georgetown sudah menjadi situs yang dilindungi oleh UNESCO dan  saya menikmati eksplorasi sejarah di sana, seperti membuka lembar-lembar buku tua yang berseri yang tidak akan habis terbaca. Mungkin itu rasa yang membedakan cara pandang saya terhadap dua kota tersebut. Yang satu cukup saya pandang sekali, selesai. Sementara yang lain setiap pandangan mengandung kisah, setiap sudut mengandung cerita.

Lalu bagaimana dengan kota kelahiran saya? Makassar memang sudah banyak berubah. Saya memang tidak bisa menyalahkan tuntutan globalisasi yang akhirnya menyamakan semua kota menjadi kaku, gemerlap, padat dan kotak-kotak. Bahkan bebarapa kota berkembang pun berburu label “sister-city” dengan kota-kota besar lainnya. Keunikan perlahan lahan terhapus.

Seperti merobek-robek buku yang sudah ditulis oleh orang tua kita. Begitulah saya menganalogikan sikap kita terhadap perkembangan kota yang ada. Siapa yang bisa disalahkan, tuntutan ekonomi, perubahan tantanan sosial dan yang pasti sikap moral menghargai sejarah kita sudah berkurang. Jadinya pemilik rumah antik pun rela menguangkan harta warisannya untuk diubah menjadi bangunan kotak yang menebalkan kantong para pencari untung.

Kisah yang saya miliki tidak tergambar lagi di dinding-dinding rumah, di jalan-jalan yang saya lalui, tempat-tempat yang dulu saya kunjungi. Semuanya berpindah alam, cuma tertinggal dalam pikiran saya saja, tidak ada lagi yang bisa saya wariskan ke anak-anak saya. Karena apa pun yang saya ceritakan akan tergambar dalam angan-angan mereka saja, tidak ada lagi yang nyata.

Coba dibayangkan berapa banyak cerita yang hilang yang terhapus. Anak-anak saya mungkin tidak akan tahu lagi tentang cerita tentang kuburan di lapangan Karebosi, dimana sewaktu kecil saya bisa berdebar-debar ketika berjalan di atas rumputnya. Takut tiba-tiba menginjak kuburan yang menyebar dengan kisah keramatnya. Tentang kisah perjuangan para lelulur mempertahankan diri disepanjang pantai dari Tallo ke Somba Opu. Yang bahkan disisinya sudah terbangun Taman Bermain modern yang seketika mengecilkan arti para pejuang kita. Terganti dengan manusia-manusia yang ego yang lupa akan kearifan-kearifan yang mungkin saja diwariskan melalui kisah dari bongkahan-bongkahan batu yang tersisa. Ya, kita cuma bisa melihat bangunan yang hampir sama diseluruh arah, rumah toko dan swalayan. terbayang manusianya…

Semua kisah yang saya sampaikan mungkin hanya akan berupa dongeng buat anak cucu saya nanti. Saya cuma berharap sebagian dari kisah-kisah yang jika  masih ada tersisa, dapat dijaga dan dilestarikan. Semoga pemimpin kota yang baru ini punya hati dan kepedulian menghargai peninggalan para orang tua kita. Minimal tidak mengubah cerita itu menjadi pundi-pundi uang yang nantinya akan hilang juga bersamaan dengan nafsu materialistik yang semakin mendominasi orang-orang masa kini.

Hanya itu harapan saya yang dari buku yang tersisa…

 

—–

Tulisan ini dibuat untuk menjawab tantangan @iPulGS dalam menyambut #SewinduAM yaitu BlogBucket dengan tema Seputar Kota. Dan berikutnya saya menantang @dgrusle dengan tema Kegiatan keseharian, kalau sudah jago menulis tema yang berat, coba kita tantang dengan menulis tema yang mudah ^^V

Selamat ulang tahun @paccarita semoga tetap menjadi keluarga yang apa adanya :*

 

9 Comments

  1. saya juga tak suka singapura. juga kota-kota lain yang melulu hanya tempat perbelanjaan dan hiburan saja. kota terbaik yang pernah saya tinggali adalah jogja, tahun 2004 silam. skrg kota idaman saya beralih: Muscat, Oman; kota dimana penduduknya sangat ramah.

  2. Hihihi..
    Kota favorit saya, sebelum mengunjungi secara real: Kyoto
    Kota favorit setelah mengunjungi secara real: tetap Kyoto <3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *