Uncategorized

Belajar untuk tidak melekat

Seorang biksu bertanya, “Apakah saya bisa mengirim email?” Tentu, jawab gurunya, asal tidak ada yang melekat (read- Attachment)

 

Walaupun bukan ini bukan pertama kalinya pindah-pindahan tapi kali ini terasa berbeda. Sejak kecil saya terbiasa hidup dengan lingkungan yang aman dan nyaman dalam keluarga. Jangankan berpindah tempat, bermalam selain di rumah sendiri pun itu boleh dihitung dengan jari.

Karena papa dan mama anak tunggal, kami tidak punya keluarga dekat. Agak berbeda dengan anak-anak saya. Si bungsu Amdan saja sudah cucu ke 50 dari garis keturunan ayahnya, wajar saja dia memiliki banyak sepupu yang seusianya, bebas saja mereka menginap di rumah sepupu-sepupunya.

Tahun berganti tahun, sepertinya saya kehilangan sosok manja yang banyak dimiliki oleh anak bungsu. Dari yang jarang bergaul semasa sekolah dulu menjadi seorang yang terobsesi untuk mengetahui segala hal tentang hidup dan menjalaninya sendiri.

 

Hidup di ibukota seorang diri memang butuh perjuangan yang tidak tanggung tanggung. Beruntung saya memiliki teman-teman yang banyak membantu. Tetapi saya memang bukan tipe yang mau membuat orang repot untuk kepentingan saya.

Dari rumah teman, sekarang saya memilih untuk kost sendiri, alasannya untuk menghemat waktu dan biaya. Tempat yang dekat dengan kantor menurutku akan membuat saya lebih rajin berjalan kaki, dekat dengan tempat gym, sehingga hobi olahraga tidak akan terganggu.

Sabtu ini saya memulai memindahkan barang-barang pribadi, harusnya tidak banyak. Tetapi ternyata saya harus bolak balik total sebanyak 5 kali untuk memindahkan barang-barang pribadi dan bisa terbayangkan saya melakukannya dengan angkot bolak balik, belum lagi dengan jalan kaki karena tempat yang baru bukan di tepi jalan besar,  tetapi saya bersyukur bisa menikmatinya. Walaupun kadang  saya berpikir ini akibat jika hobi belanja yang tak tertahankan, jadinya merepotkan diri sendiri.

Pindahan segini saja repot, bagaimana yang pindahan rumah? Sepanjang perjalanan saya cuma berpikir, apa yang akan terjadi jika kita sudah waktunya berpindah alam. Akan repotkah kita nanti?

Itu mungkin saja terjadi. Saya berusaha memahami bahwa bagaimana dalam kehidupan kadang kita harus merelakan orang yang kita cintai menjauh dari kita bahkan terlepas. Sederhana saja penjelasannya, menghindari kemelekatan terhadap makhluk.
Mungkin saat ini berat menyadari kita terpisah, tetapi latihan ini akan kita butuhkan diakhir masa hidup kita. Bagaimana kita nanti bisa meninggalkan orang-orang yang kita cintai dan harta yang diusahakan jika semua itu menempel dalam hati?

Semoga pembelajaran ini membuat saya sadar, benda-benda keduniawian tidak akan kita bawa, hanya amalan yang menunggu di tempat tujuan akhir. Mungkin benar seperti pindah-pindahan tetapi segalanya sudah disiapkan disana, tempat yang nyaman yang merupakan tabungan semasa hidup. Semoga…

12 thoughts on “Belajar untuk tidak melekat

  1. pindahan rumah?
    ya gitu deh hahaha.. 3x ma pindah rumah, dari makassar ke tambelan ke jakarta.
    di jakarta saja 2 kali mi 😛

    serasa terbiasa mi 😀

  2. pindahan rumah?
    ya gitu deh hahaha.. 3x ma pindah rumah, dari makassar ke tambelan ke jakarta.
    di jakarta saja 2 kali mi 😛

    serasa terbiasa mi 😀

  3. Repot memang pindahan, selama di Manado saja saya sudah 2x pindah kosan
    mungkin karena alasan ini, orang tua mendidik saya dan semua saudara untuk mandiri sejak kecil, sejak tamat SD kami disekolahkan jauh dari kampung halaman, agar kami tidak melekat kepada ortu
    Alhamdulillah, terasa sekali pas merantau begini, sudah tidak kaget lagi.

    1. Alhamdulillah, ala bisa karena biasa yah.. yang pasti setiap proses adalah pembelajaran, dan kesyukuran adalah jika kita bisa menikmatinya ^^

  4. Repot memang pindahan, selama di Manado saja saya sudah 2x pindah kosan
    mungkin karena alasan ini, orang tua mendidik saya dan semua saudara untuk mandiri sejak kecil, sejak tamat SD kami disekolahkan jauh dari kampung halaman, agar kami tidak melekat kepada ortu
    Alhamdulillah, terasa sekali pas merantau begini, sudah tidak kaget lagi.

    1. Alhamdulillah, ala bisa karena biasa yah.. yang pasti setiap proses adalah pembelajaran, dan kesyukuran adalah jika kita bisa menikmatinya ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *