0

Ahok bagi Pak Arif

“Pak, beneran nih dukung Ahok?”

“Iya bu, saya mah Alhamdulillah sudah bisa belajar banyak dari internet. Karena internet jadinya lebih bisa cari banyak info trus dibandingin pake akal sendiri”

“Loh pak, bukannya berita-berita di internet banyak juga yang bilang Ahok gak bagus Pak? kok bapak gak percaya berita itu?”

Pak Arif, driver di kantor. Dia memang asli orang Betawi. Tinggalnya daerah Priok setelah menjual tanah leluhur di Kampung Pulo. Penjualan tanah itu dilakukan jauh sebelum terjadinya kehebohan penggusuran oleh Pemda DKI.

“Awalnya sih saya gak suka bu, terus terang saja, pemahaman agama saya sebenarnya ekstrim. Dulu saya siap nyerang atau membuat keributan kalau ada yang membuat kami tersinggung. di kampung seperti itu sudah biasa, dan kami siap tempur.”

Saya tertarik mendengar penuturan dia tentang Ahok, awalnya hanya sekadar perbincangan santai di pantry tapi kelihatan sekali pak Arif menggebu-gebu menuturkan pendapatnya tentang Ahok.

Ahok memang kontroversial, tidak peduli orang lain mau gerah dengan gaya dia bertutur, dia tetap cuek. Membangun ibu kota dengan cara dan sentuhannya sendiri. Keras dan tegas. Saya sendiri walaupun agak waswas menyimak Ahok sebelum bersuara, punya kekaguman tersendiri pada hasil kerja nyatanya.

“Pak Arif emangnya dah kasih KTP nya ke Ahok?”

“Sudah bu, bahkan ke keluarga saya juga mintain mereka untuk daftarin KTPnya.” sahutnya seperti tim kampanye yang penuh dedikasi

“Kok bisa gitu ya, maaf ya pak bukannya pak Arif gak suka Ahok ya pak?”

“Saya mah gak peduli orang mau kata apa bu, saya yang bisa rasakan sendiri hasil kerjaan Ahok. Semenjak kecil, baru sekarang ini saya merasa Jakarta berubah”

“Anak saya sudah bisa sekolah tanpa biaya bu, bahkan untuk perlengkapan sekolah sampai mainan pun bisa dibeli dengan Kartu Jakarta Pintar. Saya seumur-umur belum pernah mampu membelikan mereka tas dan perlengkapan sekolah yang bagus, tapi sekarang mereka bisa menikmati”

Daerah tempat tinggal pak Arif langganan banjir, dia harus tetap terjaga jika hujan turun. Sekuat-kuatnya dia terjaga tujuannya hanya untuk memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi agar tidak terendam air.

“Sekarang saya sudah bisa tidur nyenyak kalau hujan bu, itu tidak pernah saya rasakan seumur-umur saya.”

Pantasan saja pak Arif tidak peduli lagi dengan latar belakang Ahok. Dia yang paling merasakan manfaat dari program-program yang dibuat di Jakarta. Bahagianya dia bisa tidak terganggu lagi dengan hujan, atau berpikir tentang sekolah anak-anaknya. Dia sekarang cuma sibuk, minta bantuan rekan sekantor untuk bisa akses internet dan mendaftarkan anaknya agar dapat mendapatkan fasilitas yang diberikan oleh Pemda DKI.

Siapa bilang Ahok tidak pro rakyat? rakyat yang mana? Yang saya tahu Pak Arif merasakan manfaatnya. Dan dia dengan rela menyerahkan KTPnya sebagai pendukung, dan dia juga rela ceritanya ini saya tuliskan di blog ini.

#bukankampanye

#cumamencatatcurhattemankantor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *