Politik · Renungan · Sehari hari

71 Tahun Kemerdekaan

Hari ini, tanggal 17 Agustus 2016 adalah tahun yang ke 71, dimana saat itu pemimpin bangsa Indonesia Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang bukan diperoleh atas hadiah dari Jepang, seperti yang direncanakan sebelumnya. Kemerdekaan yang sungguh merupakan hasil usaha para penjuang-pejuang masa itu.
Saya tidak merayakannya dengan euforia. Semakin banyak media informasi yang ada saat ini cukuplah bagi saya untuk bisa merasakan kemeriahan, kreatifitas dan energi yang dirasakan oleh sesama bangsa di seluruh pelosok negeri. Sejak tanggal 17 Agustus 2016 merupakan hari libur nasional, saya memang lebih sering tinggal di rumah dan menikmati hari libur.

Ya kemerdekaan salah satu yang saya rasakan adalah bisa berlibur dan beristirahat di rumah, tanpa disibukkan dengan waktu yang seolah mengejar tanpa letih.
Sejak saya berdiam di daerah Bekasi, waktu memang sangat banyak saya lewatkan di perjalanan. Untuk mencapai kantor setiap harinya dibutuhkan paling kurang 2 jam. Awalnya memang saya merasa sangat berat dan berpikir untuk pindah tempat atau menerima tawaran boss tinggal di rumahnya. Tetapi pertimbangan untuk lebih dekat dengan mama dan keluarga membuat saya mulai terbiasa untuk melalui keseharian seperti ini.

Hal yang berubah adalah saya tidak lagi kebablasan sholat subuh, bagaimana tidak untuk bersiap ke tempat kerja saya sudah harus bangun paling lambat jam 5 subuh. Sehat bukan?
Kemerdekaan yang saya rasakan hari ini adalah tidak perlu mengingat rutinitas dan tugas kantor, terima kasih untuk ini. Saya bisa rileks sejenak, beryoga pagi hari dengan melakukan gerakan yang berharap dapat mengurangi serangan vertigo saya, sedikit bernyanyi nyanyi di teras walaupun mungkin tetangga tidak senang mendengarnya, jika demikian saya mengusik kemerdekaan mereka ^^

Kemerdekaan yang lain yang saya rasakan dimana saya punya waktu untuk berbicara dengan Jihad, anak saya yang beberapa hari lalu minggat dari pesantren selama 3 hari. Saya tidak mendesak dia untuk mengatakan alasannya atau bahkan memarahi dia. Saya merasa dia juga butuh kemerdekaan dalam mengambil sikap dan tindakan. Pesan saya cuma satu, jangan sampai yang dia lakukan membuat orang lain susah, risau atau bahkan menjadi sulit. Terserah dia memilih yang terbaik untuknya. Saya ingin dia merasakan kemerdekaan dalam berpikir dan bertindak, dia sepantasnya sudah mengetahui yang terbaik untuk dirinya sendiri.

Arti kemerdekaan kali ini pun terasa berbeda. Sebelumnya saya tidak terlalu mengenal sosok Bung Hatta, sang proklamator yang terdelusi akibat kebesaran nama Soekarno. Dari buku “Hatta, Aku Datang karena Sejarah” yang ditulis oleh Sergius Sutanto, saya baru ‘mengenal’ beliau, mengenal Sutan Sjahrir dan mendapat gambaran keadaan pada masa-masa sulit penjajahan.
Bung Hatta adalah negarawan sejati, sikap hidup dan integritasnya sangat patut menjadi contoh. Tidak peduli dengan kebesaran nama pribadi, yang diinginkan malah rakyat Indonesia bisa benar-benar maju dengan prinsip ekonomi kerakyatannya. Beliau tidak aji mumpung. Beliau memiliki pribadi dan budi pekerti yang luhur. Kecintaannya terhadap buku membuat beliau sangat berkualitas. Hidup yang sederhana bahkan di saat di masa pemerintahan awal sudah berlangsung, beliau bahkan tergeser karena tidak dapat mengikuti arus, arus yang dapat membuat integritas terkikis.

Walaupun terlambat rasanya saya mengenal sosok beliau, tetapi saya berharap anak-anak saya bisa membaca buku ini. Mengenal beliau sebagai pejuang yang membuat saya bisa menulis saat ini, bisa berpendapat dan berbagi kepada siapa pun.

Salam Kemerdekaan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *