1

5 Peran Populer di Sosial Media Saat ini

Tidak dapat dihindari, media sosial sudah menjadi tempat yang sangat terbuka untuk segala informasi dan pernyataan pendapat. Setiap saat berbagai informasi hilir-mudik tiada henti di berbagai platform media sosial. Setiap hari pun tiada lepas saya menengok lini masa yang ada di Facebook, Twitter dan Instagram.

Akhir-akhir ini, seiring atmosfir politik yang semakin memanas, dimana setiap orang dengan bebas menunjukkan pemikiran dan sikap terhadap keberpihakannya, semakin runcing juga perseteruan yang terbaca dalam lini masa.

Apalagi pernyataan seorang petahana di ibu kota yang dianggap telah menistakan agama. Tidak tanggung-tanggung, seseorang dapat merelakan hubungan silaturahimnya hancur hanya karena keberpihakan terhadap pihak tertentu. Yang paling seru bagi saya di Facebook. Tiba-tiba saya menyadari, peran-peran yang seketika timbul menyikapi keadaan ini. Saya seperti berada dalam sebuah persidangan dimana semua peran terbaca.

  1. Peran Penonton

Saya mungkin termasuk dalam kategori ini. Suka saja melihat berbagai pihak dengan lepas menyatakan pendapat, bahkan ada yang seakan tidak mau berpikir akan efek yang ditimbulkan jika menuliskan sesuatu. Atau mungkin memang maksudnya seperti itu, agar dapat menyinggung perasaan orang lain. Saya menjadi penonton pengumpul data saja untuk saya olah sendiri, komentar yang saya sampaikan pun, saya usahakan untuk tidak berat ke pihak manapun. Walaupun dalam hati saya memiliki kecenderungan dan keberpihakan sendiri.  Saya tidak serta merta menolak mendengarkan teman-teman yang tidak sepaham. Itu adalah hak yang manusiawi dan hak saya pula untuk memilih mengkonsumsinya. Kadang yang saya sesali hanya jika melihat mereka menyebar informasi tanpa mengecek kebenarannya. Hanya sekadar menyalurkan hawa nafsu mereka dalam menyatakan pendapat, yang dimana bagi  orang lain, itu adalah tindakan yang bodoh.

  1. Peran Jaksa

Di lini masa saya, peran ini sangat banyak. Tuntutan terhadap seseorang yang diduga penista agama ini tidak tanggung tanggung.  Tidak berhenti sebelum dipenjarakan bahkan ada yang menuntut hukuman mati. Jaksa pada pengadilan memang mengajukan tuntutan dengan materi yang jelas dan berkenaan dengan pasal pada Undang-Undang Hukum Pidana. Tetapi teman-teman yang masuk digolongan ini punya kitab sendiri. Kitab rasa dan logika masing-masing berdasarkan tingkat ketidak sukaannya terhadap petahana atau yang mendukungnya.   Pengen rasanya saya menganjurkan mereka ke sidang yang betulan saja. Mengatur dakwaan dengan logis dan menyatakan di depan pengadilan.

  1. Peran Pengacara

Golongan ini juga tidak kalah banyak, seperti berada dipihak yang  tetap merasa benar mencoba terus berusaha mengcounter tuduhan dan tuntutan dari pihak lawan. Segala kebaikan yang dimilik si Petahana disebar, kalau cara ini saya lebih setuju dibanding mencari kejelekan pihak lain. Tetapi polanya masih sama, menyebar link yang mungkin saja beritanya tidak sepenuhnya benar. Dengan memanfaatkan perasaan dan keberpihakannya, pemilik situs bisa saja mendapat keuntungan yang besar, tanpa disadari oleh orang yang menyebarkannya.

  1. Peran Hakim

Bukan maksudnya menghakimi, tetapi peran hakim yang saya maksud adalah yang bijaksana dan mengademkan suasana. Beruntung masih ada yang seperti ini. Menjadi penengah dan yang bijaksana dalam menyatakan pendapatnya. Saya sampai membayangkan Judge Bao, gambaran seorang hakim yang tegas dan bijaksana di masa dinasti Song. Bedanya hakim di sini cuma menunjukkan kebijaksanaannya saja, tidak sampai memberi hukuman. Mungkin mereka memahami bahwa saya sebagai penonton perlu bahan untuk timbang-timbangan agar menjadi lebih dewasa dan dapat menentukan sikap berdasarkan hasil olah rasa dan pikiran.

  1. Peran Tuhan

Peran ini sepertinya tidak disadari oleh beberapa orang. Tidak paham tentang masalah niat, hati dan perkataan adalah hak prerogatif Tuhan dalam menilai. Serta merta menyatakan orang bersalah dan melanggar agama, murtad atau kafir.  Saya sangat tidak mengerti mengapa orang menggunakan alasan agama untuk berkata kasar dan mengandung kebencian. Agama adalah petunjuk untuk kebaikan yang menjadi sumber kedamaian. Cinta kasih dan perhatian kepada semua ciptaan Tuhan tanpa terkecuali. Kecintaan kepada kelompok sepertinya menggeser arti agama sendiri. Tetapi apa yang saya sampaikan ini bisa juga keliru, karena pemilik ilmu yang sebenarnya adalah Sang Pemilik. Saya hanya selalu berharap mendapat pencerahan agar tidak menciptakan kerusakan di bumi. Termasuk berujar yang sehingga menyakiti orang lain, tetapi  menjadi pengantar untuk hal-hal yang baik di bumi ini.

Peran apa pun yang terjadi semua pasti punya alasan. Segala yang terjadi sudah digariskan oleh Nya dan itu pernyataan iman saya. Sebagai penonton saya berusaha merefleksikan semua tanpa ada tendensi kecuali perbaikan untuk diri sendiri. Semoga semua orang mendapat berkah atas segala yang terjadi. Tetapi saya tetap penasaran dengan hari-hari ke depan akan apa yang akan terjadi. Tapi itulah excitement of life. Ketidak pastian dan segala tantangan adalah pemupuk energi untuk hidup. Semangatlah semua menjalankan perannya masing-masing.

Walaupun saya bukan murid #KMKepo kelaskepo.org, Tulisan ini diikutkan dalam #Tantangan5”

 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *