Uncategorized

Kangen Membawa Nikmat

 

Jauh dirantau itu berat, apalagi masalah lidah yang terlanjur suka dengan coto, konro dan semacamnya. Dan jika sudah merasakan yang asli akan terasa jauh bedanya. Tapi di negeri rantau, yang palsu pun jadi nikmat. ~ Pengen Pulang …

 

Berbulan bulan jauh dari kampung halaman itu sungguh berat. Walaupun sering pulang, tetapi menganggap bahwa diri sedang dalam perantauan membuat rasa kangen menjadi semakin dalam.

Makassar memang sulit untuk dilepaskan dari ingatan. Aneka kuliner, pantai dan pulaunya adalah paket yang lengkap untuk membuat pikiran dan hati ini menetap di sana.

Beruntung saya bergabung dengan Komunitas Blogger Anging Mammiri. Dengan mereka saya tidak pernah merasa jauh dari keluarga. Bertemu dengan teman sekampung yang dirantau itu pelipur lara untuk semua. Baik bagi yang  datang dan yang dikunjungi.
Judulnya selalu :

“kopi darat dengan bintang tamu si anu

Kopdar di Jakarta lebih sering diadakan di tempat yang menjual masakan khas Makassar. Sebut saja kios Pelangi, di jl Wahid Hasyim. Kopi Phoenam, bahkan Daeng Memang yang nyempil di jl Ampera pun jadi tempat pertemuan kita

Walaupun dalam hati sering bertanya, mengapa  harus makan coto, nasi goreng merah, mie titi, sop konro dan sebagainya?
Makanan itu tiap hari bisa saya nikmati di Makassar, tinggal memilih yang sesuai selera.
Tapi saya tidak boleh egois, teman-teman dirantau mungkin lebih butuh meredakan rasa kangennya daripada saya yang hanya mengeluh tentang rasa.

Coto Makassar Daeng Memang

Masih terbayang bias kenikmatan ketika suap demi suap masuk ke mulut ntan. Saat itu kami kopdar tetapi berdua saja. Kangen sama coto membuat ntan memilih Daeng Memang sebagai tempat bertemu. Bagi saya kuahnya tak jauh berbeda dengan sup daging.

Tapi itu dulu, sekarang saya pun seperti ntan. Menikmati suapan sup daging yang mengaku dirinya coto. Dan sudahlah, sekarang saya menyerah menganggap itu coto Makassar.
Saya yakin tidak ada yang berubah dari resepnya kecuali cara pandang saya terhadap masakan ini.
Karena tidak lagi semudah di Makassar, coto Daeng Memang pun jadi istimewa.

Sup Konro Karebosi @ Tebet

Tidak hanya itu, perburuan pun sampai di Konro Karebosi. Dari namanya berkesan asli, lalu apakah sama dengan rasanya?

Di Konro Karebosi yang letaknya tak jauh dari Tebet, kost an saya ini, dijual juga sop saudara dan coto. Saya sudah pernah mencobanya dan kesimpulannya adalah: ‘kuahnya sama’

Walaupun memang kuah sup-sup dari Makassar bahan dasarnya sama tetapi bumbu dominan membedakannya. Konro memang lebih banyak kluwak,  sop saudara dengan telur kocoknya, coto dengan kacang tanah/mentenya dan pallubasa dengan serundeng/kelapa gorengnya.

Kuah sama pun bagi saya sudah bukan sesuatu untuk dicela, walaupun rasanya jauh, sejauh 2 jam perjalanan dari Jakarta ke Makassar.
Kangen itu sudah menjadi modal untuk bisa membuat makanan ini nikmat.

Yuk mari kita kopdar lagi, saya lagi kangen

22 thoughts on “Kangen Membawa Nikmat

  1. ya, walaupun rasanya beda, tapi kerinduan akan makanan khas Makassar itu selalu menyuguhkan kenikmatan setiap kali berkunjung ke rumah makan khas Makassar di perantauan 🙂

  2. ya, walaupun rasanya beda, tapi kerinduan akan makanan khas Makassar itu selalu menyuguhkan kenikmatan setiap kali berkunjung ke rumah makan khas Makassar di perantauan 🙂

  3. horeee, namaku disebutsebut
    *ketjup basah mamie*

    iyaah, rasa bukan lagi jadi perhatian utama yang penting. bisa kopdar dan haha-hihi itu sudah lebih cukup
    ayooo kapan masopso
    😀

  4. horeee, namaku disebutsebut
    *ketjup basah mamie*

    iyaah, rasa bukan lagi jadi perhatian utama yang penting. bisa kopdar dan haha-hihi itu sudah lebih cukup
    ayooo kapan masopso
    😀

  5. Benar mam, masalah utama di rantau itu kebanyakan soal l;idah..apalagi yg sudah fanatik dg citarasa kampung halaman kayak saya, biar sering pulang tp belum tentu sempat hunting kuliner, jdnya kalau kangen terpaksa melipir ke warung makassar di sini, lumayanlah..obat kangen

    1. tapi disana ada cakalang fufu, tinutuan sama klapertart… huhuhu.. mauuuu (keknya ini memang balala) 😀

  6. Benar mam, masalah utama di rantau itu kebanyakan soal l;idah..apalagi yg sudah fanatik dg citarasa kampung halaman kayak saya, biar sering pulang tp belum tentu sempat hunting kuliner, jdnya kalau kangen terpaksa melipir ke warung makassar di sini, lumayanlah..obat kangen

    1. tapi disana ada cakalang fufu, tinutuan sama klapertart… huhuhu.. mauuuu (keknya ini memang balala) 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *