0

2015, Kami Datang dengan Semangat!

Tiket kereta yang sudah saya pesan dua bulan yang lalu untungnya dapat ditolerir oleh pak bos. Hari libur akhir tahun yang belum pasti dan urgensi untuk memesan tiket lebih awal untuk kepentingan seat dan harga. Selasa tanggal 30  Desember 2014 menjadi tambahan hari izin saya. Entah sudah berapa banyak hari izin yang saya minta apalagi setelah ke Jepang selama selama sebelas hari.

Kali ini saya menggunakan KA. Argo Lawu tujuan Solo. Sebenarnya saya malas menempuh rute ini, karena tiba subuh langsung harus ke terminal untuk naik bus sampai ke Maospati. Bukan lama perjalanan yang dua setengah jam yang membuat saya malas, tetapi naik bus antar kota di pulau Jawa itu benar benar diuji kesabaran. Dari kondektur yang main asal dorong (pegang-pegang), tempat duduk yang sudah sempit pun masih dipadatkan, belum lagi yang berdiri. Duduk di isle bisa jadi samsak sementara, kepala disikut sana sini dan orang yang nyikut pun santai aja. Iya memang mereka santai, semuanya jadi pemakluman, mungkin karena memang begitu seperti biasanya.

Saya cuma tidur dua jam di kereta api, di bus sama sekali tidak bisa tidur diantara kekacauan yang saya ceritakan itu. Untungnya kosan tempat biasa di Pondok Utara masih kosong, sehingga saya bisa beristirahat. Ojek dari Maospati ke pondok utara pun sudah naik harga rupanya menjadi Rp. 20.000,-

Anak-anak izin sebelum dhuhur. Pas waktu tidur jika di pondok. Bahagianya bisa bertemu dengan mereka. Sudah pasti tas duluan yang dibongkar. “Ummi bawa apa?”

Rencana saya melewatkan 3 malam bersama anak-anak, tetapi anak-anak pengen suasana berbeda, mereka meminta untuk ke Madiun. Via agoda akhirnya saya membook hotel Merdeka di Madiun. Harganya lumayan untuk hotel yang saya kategorikan sudah lama. Tetapi masih mending dibanding Aston Madiun yang harganya bisa 2x lipat.

Sayangnya, Adek selalu saja sakit jika saya kunjungi. Kata orang-orang sih karena dia masih manja, masih pengen disayang-sayang sehingga begitu saya tiba daya tahan tubuhnya pun melemah. Entah benar entah tidak. Yang pasti saya memang jadi harus memperhatikan ekstra ke dia. Untungnya kakak sudah bisa mengerti, walaupun kadang dia bilang dia pengen jadi anak bungsu supaya bisa disayang seperti adiknya. “Kakak itu tumpuan harapan ummi yang paling besar, makanya ummi keras dan mau kakak bisa jadi pemimpin, menjadi pelindung untuk adiknya,” kataku mencoba menjelaskan.

Hotel Merdeka bukan tempat yang tepat untuk beristirahat ternyata. Karena terletak di pusat kota, dua panggung disiapkan untuk konsentrasi massa di malam tahun baru. Kebanyang berisiknya. Tetapi saya tetap bersyukur karena tidak mendengar petasan yang tiada henti jika berada di kosan di Jakarta.

Malam tahun baru saya lewatkan di kamar dengan anak-anak, dengan adek yang tidur karena demam dan kakak yang asik main handphone. Saya cuma memeluk kakak dan sama sama kami berdoa berharap untuk tahun yang lebih baik dan lebih kuat.

IMG_20150102_135325

“Ummi, saya minta pesan dari ummi, saya sudah mulai sedih ummi sudah mau pulang”, kata adek yang berangsur angsur sembuh di hari terakhir kami di hotel.

“Kesedihan dan kebahagiaan itu  bersifat sementara, jadi jangan pernah menyerah, tetap semangat, tetap berharap”

Kata kata yang saya tulis untuk menyemangati diri saya juga terbukti berefek pada adek. “Langsung ka jadi semangat ummi,” katanya dengan logat makassar yang masih kental.

Alhamdulillah, semoga kita semua dikuatkan nak. Selamat tahun baru 2015. Saling mendoakan saling mengingatkan untuk tetap semangat.

I love you all :*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *